Ketua Presidium MER-C: Hari Nakba Jadikan Kurikulum

Dr. Sarbini Abdul Murad, Ketua Presidium MER-C meminta kepada Pemerintah RI agar sejarah tentang Nakba dimasukkan ke dalam kurikulum sejarah di tingkat sekolah menengah. Tujuannya adalah agar siswa-siswi Indonesia memahami bahwa sampai saat ini masih ada salah satu negara peserta Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 yang belum mendapatkan kemerdekaan, bahkan justru semakin tertindas oleh penjajah. Negara itu adalah Palestina. Hal ini disampaikan Sarbini pada acara seminar Peringatan hari Nakba ke-75 Tahun yang diselenggarakan oleh Aqsa Working Group (AWG) di Aula Munif Chatib, Cibubur, Bekasi, Kamis/18 Mei 2023. Di samping itu, Ketua Presidium MER-C juga menyerukan agar ada koalisi besar di segala elemen anak bangsa untuk menghambat pergerakan kelompok-kelompok pro-Israel yang berupaya mendorong Pemerintah RI untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Indikasi ini sudah semakin terang-benderang dengan banyaknya pelajar Indonesia yang dikirim ke Israel untuk sekolah di sana. Selain itu, ada hubungan perdagangan Indonesia-Israel secara tertutup. Lebih lanjut Sarbini mengatakan bahwa jika Pemerintah RI tidak tegas dalam hal ini, akan terjadi perubahan opini masyarakat dalam melihat penjajahan Israel di Palestina. Ia juga mengusulkan kepada Pemerintah agar tanggal 15 Mei atau hari Nakba dijadikan hari libur nasional sebagai bentuk pertanggungjawaban konstitusi yang menghendaki terhapusnya penjajahan di atas dunia.Seminar bertajuk “Peringatan Hari Nakba, Momentum Gaungkan Dukungan atas Nestapa Bangsa Palestina Akibat Penjajahan Zionis Israel” turut dihadiri oleh Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E. Zuhair Al Shun sebagai pembicara kunci bersama para narasumber dari dalam dan luar negeri, yakni Atallah Hanna (Uskup Agung Gereja Yerusalem), Issa Amro (Advokat & Aktifis Palestina), Muhammad Sahrul Murajjab (Fungsional Diplomat Madya di Direktorat Timur Tengah Kementerian luar Negeri RI), Dr. Abdul Muta’ali (Akademisi Dosen FIB UI), dan A. Syalabi Ichsan (Redaktur Republika).
Catatan Tahun 2020

CATATAN DOKTER BEN Selamat datang tahun 2021. Semoga tahun yang akan kita lalui menjadi tahun yang penuh keberkahan dan lebih baik dari tahun sebelumnya. Itu asa kita semua. Kita mesti menyakini bahwa langkah dan harapan pada tahun 2021 adalah menjadikannya sebagai tahun perjuangan untuk memperoleh kemenangan dan kemajuan bagi bangsa kita. Ada beberapa catatan di tahun 2020 yang patut kita belajar dan ambil hikmahnya. Pertama, ujian berat bagi kita adalah merebaknya wabah Covid-19. Di awal pandemi kita gugup dan panik menghadapi serangan wabah yang begitu cepat. MER-C dengan cepat melakukan langkah darurat dengan membuat APD (Alat Pelindung Diri) sederhana tapi aman bagi Nakes. APD buatan MER-C diburu oleh institusi kesehatan di seluruh Indonesia, ada yang kita kirim sesuai dengan permintaan, tapi ada juga yang datang ke kantor MER-C untuk mengambil sendiri. Langkah cepat MER-C di awal pandemi diapresiasi oleh banyak pihak. Banyak donatur yang simpati dan terus berpartisipasi menyumbang dana untuk menolong Nakes. Kami ucapkan terima kasih kepada para donatur. Disamping itu, MER-C juga membuka _call center_ dan membentuk tim monitoring terdiri dari relawan dokter spesialis dan umum yang setiap harinya menerima keluhan warga atau pasien yang terkena covid atau terduga covid. Langkah ini merupakan wujud dari partisipasi MER-C membantu masyarakat mengatasi wabah pandemi. Kedua, kepulangan teman-teman relawan konstruksi dari Jalur Gaza, Palestina. Selama dua tahun mereka menjadi relawan di tanah para nabi untuk melakukan pembangunan dua lantai tambahan RS Indonesia. Mereka meninggalkan keluarga dan kerabat yang penuh harap dan cemas di tanah air, karena mereka datang ke tanah yang tiap saat terjadi serangan Israel, dan nyawa mereka selalu berada di ujung tanduk. Alhamdulillah mereka bisa pulang dengan selamat dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga. Ketiga, sebelum tutup tahun MER-C dipanggil oleh pihak Kepolisian. Ini ujian yang mesti kita hadapi dengan tenang dan berharap agar semua bisa berlalu dengan manis. Inilah kehidupan, inilah dunia. Kata ALLAH dunia tempat senda gurau dan permainan. Kita tak perlu marah dan kesal. Semua ini sudah menjadi takdir kita dan kita mesti berprasangka baik kepada ALLAH. Akhirnya kepada semua relawan MER-C, tetap semangat dan terus berbuat kebajikan untuk bangsa dan negara. Doa dan harapan kita semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Jakarta, 2 Januari 2021
Selalu Ada Jalan Keluar

Catatan Dokter Ben Sejarah membuktikan bahwa MER-C berangkat dengan semangat dan ketulusan. Dua kata itulah yang telah menjadi energi MER-C dalam mengukir sebagian sejarah panjang anak bangsa ini. Banyak kisah-kisah inspiratif yang MER-C alami. Kisah ini saya angkat kembali untuk memotivasi kita semua dalam menapaki tantangan ke depan yang terus kita jalani. Sebagai NGO yang kenyang dengan asam garam perjuangan, sudah tentu memberikan terbaik dalam segenap aktivitas kemanusiaan baik suasana terencana ataupun tidak. Sering langkah berani yang MER-C ambil membuat mata susah merem. Langkah berani MER-C yang paling spektakuler adalah membangun rumah sakit di Palestina. Bangunan Tahap 1 RS Indonesia di Gaza, Palestina Awalnya banyak yang menyebutkan ini langkah impossible, membangun sebuah rumah sakit di tanah yang penuh pergolakan yang tidak berujung penyelesaian. Keputusan sudah diambil, janji sudah dibuat, MOU sudah ditandatangani dengan Palestina. Layar sudah dikembangkan, bahtera pantang berlabuh. Pak Faried Thalib dan Pak Idrus M. Alatas, komandan lapangan yang nekat dan inspiratif membuat kami yakin pekerjaan besar ini akan bisa dan mungkin diselesaikan. Dalam perjalanan suka duka bersama kami alami. Bagaimanapun dana menjadi penyambung proyek besar ini. Dengan modal hanya Rp 10 Milyar dan biaya rumah sakit diperkirakan mencapai Rp 110 M, sungguh membuat jantung berdegub kencang. Sebagai orang lapangan, Pak Faried yang langsung berinteraksi dengan kontraktor Palestina dan mereka tidak mau tahu tentang kesulitan keuangan yang MER-C alami. Dalam kepusingan tiba-tiba beliau meminta rapat presidium mendadak karena ada hal krusial yang harus diputuskan saat itu juga. Dengan pasti dan tanpa panjang lebar beliau menegaskan, “Saya mau hutang Rp 15 milyar ke seorang pengusaha besar, dia sahabat dekat saya. Nanti MER-C yang bayar, kalau MER-C tidak sanggup, saya dan dr. Jose yang akan tanggung jawab.” Terjadi diskusi antara kami apakah menerima tawaran ini atau tidak. Keputusan rapat akhirnya menerima keinginan ini dengan segenap pertimbangan. Tapi sejarah berkata lain. Takdir Allah, rencana itu tidak pernah terwujud sampai rumah sakit diresmikan. Lima hari kemudian tiba-tiba Israel menyerang Gaza. Serangan begitu dahsyat dan lama. Pemberitaan perang begitu masif. Korban sipil berjatuhan. Dunia internasional mengutuk kebiadaban Israel. Simpati dalam negeri begitu besar. Tak disangka donasi rumah sakit yang awalnya lambat dan sedikit, tiba-tiba donasi masif. Di Gaza, hanya ada relawan MER-C yang sedang membangun rumah sakit, maka mayoritas donasi rakyat Indonesia ditujukan ke Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza. Dalam waktu singkat, dana yang dibutuhkan untuk bangun RSI tercukupi. Jadi ingat firman Allah SWT dalam Al-Qur’an : “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. 94:5). Sejarah membuktikan bahwa MER-C berangkat dengan semangat dan ketulusan. Dua kata itulah yang telah menjadi energi MER-C dalam mengukir sebagian sejarah panjang anak bangsa ini. 26 November 2020dr. Sarbini Abdul MuradKetua Presidium MER-C