MER-C Safari Kemanusiaan ke PDIP terkait Palestina

Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad, terus melanjutkan “Safari Kemanusiaan untuk Mendukung Kemerdekaan Palestina”. Setelah bertemu dengan berbagai Tokoh Lintas Agama, Pejabat Pemerintahan dan Ormas, Selasa (23/5), Sarbini bertemu dengan Ketua DPP PDI-P Bidang Keagamaan dan Kepercayaan kepada Tuhan YME, Prof. Dr. H. Hamka Haq, M.A di Kantor DPP PDI-P, Jakarta Pusat. Hal ini dilakukan dalam rangka membangun koalisi besar untuk menghadapi Israel dan juga mencapai kemerdekaan Palestina. “Ini adalah komunikasi awal. Kita ingin merangkul semua elemen anak bangsa, membangun koalisi besar untuk membela Palestina. Kita lihat komitmen PDI-P untuk Palestina cukup besar, untuk itu kita bertemu dengan Prof. Hamka Haq,” ujar Sarbini. Ia berharap dengan koalisi besar, sehingga ada sisa-sisa sejarah Palestina sebagai satu-satunya negara peserta Konferensi Asia Afrika tahun 1955 yang belum merdeka bisa diperjuangkan bersama. Sementara itu, Prof. Dr. H. Hamka Haq, M.A yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia (PP Bamusi), sayap organisasi PDI-P, menyambut positif safari kemanusiaan MER-C. “Ini sangat positif dan perlu diteruskan,” kata Hamka. Ia juga menegaskan bahwa hal tersebut sejalan dengan perjuangan ideologis Bung Karno yang hingga kini terus diperjuangkan oleh PDI-P. Lebih lanjut Hamka mengatakan bahwa selama ini banyak yang keliru bahwa perjuangan membela Palestina adalah perjuangan keislaman. Meskipun ada emosional keagamaan namun perjuangan membela Palestina merupakan perjuangan kemanusiaan dan perjuangan kebangsaan. Untuk itu, Hamka meminta agar safari kemanusiaan MER-C bisa lebih dari sekedar hanya bersafari. “Itu tadi permintaan saya, jangan hanya safari keliling-keliling, tapi organisasi atau lembaga yang dikunjungi diajak bersatu dalam satu lembaga bersama untuk solid memperjuangkan Palestina,” lanjutnya. Hal ini menurutnya, agar perjuangan tidak bersifat sporadis, namun bisa menjadi sebuah kekuatan yang besar. “Jalan satu-satunya membentuk panitia bersama. Mari kita kerjasama. Kita adakan pertemuan berkala untuk membahas isu-isu masalah Palestina,” imbuhnya. Dalam kesempatan tersebut, Sarbini juga menyampaikan pandangannya bahwa bangsa Palestina mempunyai harapan besar kepada bangsa Indonesia. Ia berharap Indonesia sebagai bangsa yang besar bisa lebih berperan dalam persoalan Palestina, yaitu menjadi penengah dan menyatukan faksi-faksi yang ada di Palestina. “Indonesia mempunyai kemampuan untuk itu dan PDI-P bisa masuk mendamaikan faksi-faksi yang ada di Palestina,” ungkap Sarbini. Turut hadir dalam pertemuan tersebut jajaran Ketua PP Bamusi lainnya, yaitu Ulfah Mawardi, Nu’man Bashori, Indah Nataprawira, Irvansyah dan Yudi Sutarno.

MER-C Minta Pemerintah Tolak Timnas Israel

MER-C berharap pemerintah selaras dalam perbuatan ketika mendukung Palestina dan menolak Israel yang menjajah Palestina.     JAKARTA — Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyampaikan pesan kepada Pemerintah Indonesia mengenai polemik keikutsertaan timnas Israel dalam Piala Dunia U-20 di Indonesia pada tahun 2023. MER-C berharap pemerintah selaras dalam perbuatan ketika mendukung Palestina dan menolak Israel yang menjajah Palestina.   “Ini harapan dan permintaan kami kepada Presiden (Joko Widodo), khususnya agar secara tegas (pemerintah) menolak kepentingan timnas Israel ikut dalam Piala Dunia U-20 di Indonesia,” ujar Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad di kantor Republika, Jakarta, Jumat (19/8).   Sarbini mengingatkan, Presiden Sukarno pernah menolak kepentingan Israel pada tahun 1962 ketika Asian Games. Kalau Presiden Jokowi mampu menolak timnas Israel ikut dalam Piala Dunia U-20 di Indonesia tahun 2023, artinya Jokowi mampu mengembalikan keberanian dan konsistensi Bung Karno dalam mendukung Palestina.   MER-C yakin Presiden Jokowi akan memperhatikan aspirasi masyarakat. Harapannya, konstitusi Indonesia yang jelas mengatakan bahwa penjajahan di atas bumi harus dihapuskan betul-betul dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen oleh Pemerintah Indonesia.   Kepada Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin, MER-C menyampaikan, Wapres adalah seorang ulama. Karena itu, MER-C yakin, Kiai Ma’ruf akan memberikan yang terbaik kepada pemerintah dan rakyat Palestina. MER-C juga yakin Kiai Ma’ruf akan menolak timnas Israel ikut dalam Piala Dunia U-20 di Indonesia.   Sarbini mengingatkan, jika timnas Israel mengikuti Piala Dunia U-20 di Indonesia, masyarakat Indonesia pasti akan kecewa. “Akan ada kekecewaan yang terjadi di masyarakat ketika timnas Israel masuk ke Indonesia, bisa jadi ada penolakan yang ekstrem (terhadap timnas Israel),” ujarnya.   Sarbini berpandangan, jika timnas Israel ikut dalam Piala Dunia U-20 di Indonesia, sama saja pemerintah melanggar konstitusi Indonesia. Jadi, ada dua hal yang akan terjadi. Pertama, respons keras masyarakat. Kedua, pemerintah melanggar konstitusi. Dua hal ini yang harus dihindari.   “Sesuatu yang tidak bagus untuk kita (pemerintah dan bangsa Indonesia) dan untuk sejarah bangsa Indonesia, maka pemerintah harus tegas untuk bisa melaksanakan hal yang diinginkan oleh konstitusi dan masyarakat Indonesia,” ujar Sarbini.   Sebelumnya, dalam rangka safari kemanusiaan untuk menolak kedatangan timnas Israel, Sarbini bertemu dengan Ketua Presidium Majelis Ormas Islam (MOI) KH Nazar Haris pada Kamis (18/8). Dalam pertemuan tersebut, Ketua Presidium MOI memberikan apresiasi positif atas kunjungan dan pencerahan yang disampaikan oleh pimpinan MER-C.   Kiai Nazar menyambut baik dan mendukung gagasan MER-C menolak kedatangan timnas Israel ke Indonesia. Sebab, penolakan ini adalah bentuk pembelaan terhadap konstitusi bangsa Indonesia.   “Sesuai dengan UUD 1945, tujuan kita mendirikan negara ini adalah memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,” kata Kiai Nazar melalui keterangan tertulis.   Kiai Nazar juga menyampaikan, apabila bangsa Indonesia membiarkan Israel hadir ke Indonesia, Indonesia bisa terancam dengan penjajahan baru, dengan model baru, dan penjajahan lebih ketat.   “Untuk itu, kita akan mencari cara supaya kita bisa menggalang bersama, menjaga kedaulatan bangsa dan kita bisa melindungi bangsa Indonesia dari model-model penjajahan yang sedang direkayasa,” ujar Kiai Nazar.     Link :

DPP Hidayatullah Sambut Baik Gerakan Tolak Timnas Israel

Dewan Perwakilan Pusat (DPP) Hidayatullah menyambut baik dan mendukung gagasan MER-C untuk menolak kedatangan Timnas Israel yang akan berlaga pada ajang olah raga U-20 tahun 2023 mendatang di Indonesia. Hal ini dikatakan Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Ir. Candra Kurnianto saat menerima kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad, di kantor DPP Hidayatullah, Rabu/3 Agustus 2022. “Kami sambut gembira kegiatan MER-C yang menggagas perlawanan terhadap Israel dan kita menjadi bagian dari perlawanan itu bersama rakyat Palestina,” ungkap Candra. Didampingi Ketua Departemen Hubungan Antar Bangsa, Dzikrullah dan sejumlah Pengurus Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Sekjen DPP Hidayatullah ini mengatakan akan lebih baik jika MER-C yang menggagas namun mengajak semua elemen umat untuk sama-sama bergerak.“Tadi kami menyampaikan agar kita mengajak ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Majelis Ormas Islam (MOI) yang saat ini terdiri dari 13 ormas dan juga ormas-ormas lainnya,” imbuhnya. Tidak hanya itu, ia juga berharap gerakan ini dapat mengajak elemen masyarakat umum, seperti supporter sepak bola dan masyarakat lainnya. Hal ini menurutnya perlu dilakukan agar semua sadar bahwa Israel dengan kedzolimannya harus dilawan oleh semua. “Target kita bisa menekan Pemerintah Indonesia sehingga pemerintah bisa membatalkan atau tidak menerima kontingen sepak bola Israel ke Indonesia,” ujarnya. Dalam pertemuan tersebut, tak lupa Ketua Presidium MER-C memberikan syal bermotif Indonesia – Palestina kepada Sekjen DPP Hidayatullah, syal yang didisain khusus oleh MER-C sebagai lambang persahabatan dan dukungan Indonesia kepada Palestina. Sebelumnya, pada Rabu/29 Juni 2022, MER-C bersama lembaga peduli Palestina diantaranya AWG (Aqsha Working Group), BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) dan KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) telah mengadakan konferensi pers bersama menolak kedatangan Timnas Israel. Upaya penolakan ini akan terus dilakukan tidak hanya karena daftar panjang pelanggaran HAM namun juga penjajahan yang masih dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina yang bertentangan dengan konstitusi negara Indonesia dan hukum Internasional. Apabila Tim sepak bola Israel hadir dan berlaga di Indonesia, maka ini akan menjadi sebuah pengakuan secara tidak langsung bagi eksistensi Israel dan bentuk dukungan atas penjajahan yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina.

Ketua DPD RI Minta Panglima TNI Fasilitasi Relawan Kemanusiaan MER-C Masuk Palestina

SIARAN PERS Ketua DPD RI ———- JAKARTA – Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, meminta Panglima TNI membantu memfasilitasi relawan kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang terhalang masuk ke Palestina melalui Mesir.    Secara administrasi, relawan MER-C telah memenuhi seluruh prosedur yang diperlukan. Hanya saja, mereka terhalang oleh izin intelejen Mesir.   “Ini butuh koordinasi antar intelejen negara, dalam hal ini BAIS yang memang di bawah kendali Panglima TNI. Maka saya meminta Panglima TNI untuk memfasilitasi hal ini, agar relawan MER-C dapat masuk ke Gaza dengan misi kemanusiaannya,” tutur LaNyalla saat menerima audiensi pengurus MER-C di kediaman Ketua DPD RI, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (12/6/2022).   Senator asal Jawa Timur itu mengatakan segera berkoordinasi dengan Panglima TNI untuk membantu relawan kemanusiaan MER-C agar dapat membantu kesehatan rakyat Palestina, melalui rumah sakit yang didirikan dari donasi masyarakat Indonesia.   “Secepatnya harus ditindaklanjuti agar masyarakat Palestina segera mendapatkan hak kesehatan yang layak. Saya sangat mendukung dan mendorong agar relawan MER-C dapat segera difasilitasi masuk ke Palestina,” tegas LaNyalla.   Dalam audiensi tersebut, jajaran pengurus MER-C mengeluhkan akses yang sulit untuk dapat masuk ke Palestina melalui Mesir.    “Kami meminta akses untuk dapat masuk ke Palestina. Hubungan Indonesia dan Mesir sangat bagus. Tapi pemerintah tak bisa meyakinkan Pemerintah Mesir, dalam hal ini intelejen mereka, agar relawan MER-C dapat diberikan akses masuk ke Palestina,” tutur Head of Presidium MER-C, dr Sarbini Abdul Murad. Menurutnya, bulan lalu dua orang relawannya tertahan di perbatasan Palestina-Mesir lantaran tak diberikan akses masuk oleh intelejen Mesir.    “Untuk masuk ke Palestina, selain visa dan persyaratan lainnya, juga harus ada izin dari intelejen. Kami sudah berkoordinasi dengan KBRI di Mesir. Tapi tetap gagal masuk dari perbatasan karena terhambat oleh izin intelejen Mesir,” ujar Sarbini.   Sementara untuk pengembangan rumah sakit di sana, mereka butuh akses yang mudah untuk masuk karena kita membawa material, tukang, tenaga ahli, dokter, relawan dan lainnya.  Sebagaimana diketahui, akhir tahun 2015 rumah sakit hasil donasi masyarakat Indonesia telah beroperasi di Palestina.    Setiap harinya lebih dari 500 pasien masyarakat Palestina memanfaatkan fasilitas kesehatan rumah sakit hasil donasi masyarakat Indonesia di Palestina. Karena kebutuhan fasilitas pelayanan, saat ini fasilitas ditambah dengan membangun dua lantai agar pelayanan dapat lebih maksimal.   Hadir dalam kesempatan itu sejumlah pengurus MER-C, di antaranya dr Sarbini Abdul Murad, Tonggo Meaty, Ita Muswita, Luly Larissa, dr Zackya Yahya, dr Henry Hidayatullah, dr Hadiki Habib dan Rima Manzanaris.(***)     *BIRO PERS, MEDIA, DAN INFORMASI LANYALLA* www.lanyallacenter.id

Tokoh Hindu: Solusi Dua Negara untuk Konflik Palestina – Israel, Itu Win-Win Solution

MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia terus bergerak melakukan safari kemanusiaan ke berbagai elemen anak bangsa dan tokoh lintas agama di Indonesia. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Kamis/16 Desember 2021, Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad melakukan kunjungan ke kantor Parisada Hindu Dharma Indonesia atau PHDI sebagai Majelis Tertinggi Agama Hindu di Indonesia. Safari ini dalam rangka mengajak seluruh rakyat Indonesia, khususnya umat Hindu di Indonesia untuk turut mendukung kemerdekaan Palestina, karena kemerdekaan adalah hak asasi setiap negara. Indonesia mempunyai tanggung jawab konstitusi serta tanggung jawab sejarah untuk mendukung upaya ini. Kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad diterima oleh drg. Nyoman Suartanu, MPM selaku Ketua Bidang Kesehatan dan Sosial Kemanusiaan PHDI. Sebagai salah satu tokoh Hindu di Indonesia, drg. Nyoman merespon positif safari yang tengah dilakukan oleh MER-C karena beririsan di nilai kemanusiaan.                               “Melihat dari safari yang dilakukan oleh MER-C maka irisannya adalah di nilai-nilai kemanusiaan. Orang menderita, orang kena musibah tidak bisa kita pilah-pilah, semuanya adalah masalah kemanusiaan. Secara nilai baik itu dalam kitab-kitab manapun juga, kalau kita bicara masalah kemanusiaan, pasti itu yang tertinggi,” ujar Nyoman. Lebih lanjut Nyoman menjelaskan bahwa PHDI bernaung di bawah nilai-nilai Hindu dan ajaran kitab Weda. “Nilai-nilai dalam Weda, dalam ajaran agama Hindu adalah menyayangi kehidupan. PHDI menjunjung nilai-nilai itu, menjaga kehidupan dan menyayangi kehidupan, maka masuk ke human value atau nilai kemanusiaan.” Ia juga menyatakan keprihatinannya dengan konflik berkepanjangan Palestina – Israel yang menyebabkan banyak korban berjatuhan. “Kita sedih sepertinya tidak ada selesai-selesainya. Ini adalah masalah kemanusiaan tentu kita sebagai umat manusia di dunia memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk menghentikan seluruh konflik yang akhirnya menimbulkan korban kemanusiaan,” katanya. Menanggapi diskusi untuk upaya menghentikan konflik berkepanjangan ini dan adanya opsi soluasi dua negara yang juga didukung oleh pemerintah Indonesia, Drg. Nyoman Suartanu berpendapat hal ini sebagai win-win solution bagi kedua pihak yang bertikai.                             “Solusi dua negara itu adalah salah satu bentuk win-win solution. Kalau tadinya satu pihak ingin menguasasi, pihak lain ingin mempertahankan, win win solutionnya adalah ayo kita bagi, pilah jangan sampai terjadi seperti itu lagi,” ujar Nyoman. Namun bagaimana secara detailnya karena menyinggung kebijakan pemerintah, maka PHDI menurutnya sangat menjunjung bagaimana pemerintah Indonesia membuat sebuah keputusan yang bijak terhadap kondisi ini karena kita memiliki kewajiban dan tanggung jawab tentang hal tersebut. “Walau kami memiliki aturan, kami pasti akan tunduk dengan kebijakan positif hukum negara. Negara pun membuat keputusan tidak akan gegabah,” katanya. Di akhir pertemuan, sebagai kenang-kenangan dan untuk mempererat hubungan antara MER-C dan PHDI, dr. Sarbini Abdul Murad menyerahkan syal Indonesia – Palestina kepada drg. Nyoman Sanuarta dan plakat berlogo MER-C. Syal Indonesia – Palestina didisain khusus oleh MER-C dengan menyandingkan disain batik dari Indonesia dan disain kotak-kotak hitam putih dari Palestina sebagai simbol persahabatan Indonesia – Palestina.

Dukung Safari Kemanusiaan MER-C untuk Palestina, MUI: Ini Langkah yang Sangat Baik

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Kerja Sama Luar Negeri dan Hubungan Internasional, Prof. DR. Sudarnoto Abdul Hakim menyambut baik ide safari kemanusiaan untuk Palestina yang tengah dilakukan oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). MUI mendukung dan berharap gerakan ini akan memberi ruang untuk merakit sebuah aliansi antar warga bangsa untuk membela Palestina. Hal ini disampaikan saat menerima kunjungan Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad, di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Selasa/7 Desember 2021.                     “Ide safari kemanusiaan yang dilakukan oleh MER-C adalah langkah yang sangat baik. Pertama, agar terbangun awareness di kalangan masyarakat luas terkait persoalan-persoalan yang dihadapi rakyat dan bangsa Palestina yang dalam waktu panjang telah teraneksasi oleh Israel. Kedua, pentingnya safari ini adalah memberi ruang untuk merakit sebuah aliansi antar warga bangsa apapun latar belakang agama, suku, dsb bahwa kerjasama secara lebih luas untuk membangun dan membela rakyat Palestina menjadi sangat penting,” ujarnya. Prof Sudarnoto juga menegaskan bahwa MUI mendukung semua gerakan yang dilakukan oleh siapapun, karena membela Palestina adalah amanah pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Kisah Palestina juga merupakan kisah penjajahan yang eksistensial yang dilakukan oleh Israel. Menurutnya, posisi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia termasuk kekuatan-kekuatan civil society seperti MER-C dan sebagainya menjadi sangat penting untuk membuktikan bahwa ini adalah Amanah UUD 1945.                     “MUI tentu sangat mendukung berbagai upaya-upaya yang memang dilakukan untuk perdamaian di tengah kesulitan yang dihadapi oleh bangsa Palestina. Ini komitmen kemanusiaan untuk perdamaian dunia,” katanya. Ia berharap langkah ini dapat terus dilakukan melalui program-program yang lebih konkrit. “Mudah-mudahan langkah safari ini merupakan langkah yang secara terus-menerus dilakukan dan melalui program yang konkrit, antara lain melalui dialog-dialog berkelanjutan dan pilihan ide-ide program yang bisa dirasakan oleh rakyat dan bangsa Palestina menjadi penting. Ini perlu ditindaklanjuti dalam pertemuan-pertemuan untuk membahas lebih detail,” tambahnya. Menyinggung mengenai bantuan untuk Palestina, Prof Sudarnoto menjelaskan bahwa MUI saat ini sedang berkonsentrasi menyelesaikan program RS Indonesia di Hebron, Tepi Barat, Palestina. “Alhamdulillah kita memperolah dukungan dari berbagai kalangan. Kami berharap ini akan selesai sesuai dengan jadwalnya. Ini program yang sangat penting bukan semata-mata berdirinya secara fisik RS Indonesia di Hebron. Tapi ini menggambarkan komitmen bangsa Indonesia melalui MUI, menggambarkan kepedulian kita kepada Palestina.”                     Sementara itu, untuk membantu warga Palestina, khususnya yang berada di Jalur Gaza, MER-C juga telah melakukan pembangunan RS Indonesia di wilayah terblokade ini. Selain bantuan kemanusiaan, safari kemanusiaan untuk Palestina menjadi langkah MER-C selanjutnya untuk mendukung kemerdekaan Palestina.

Romo Benny Bertemu Ketua MER-C: Muhammadiyah dan NU Bisa Menjadi Penengah Konflik Palestina

Dalam rangka mendorong Kemerdekaan Palestina, Ketua Presidium MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia, Sarbini Abdul Murad terus melakukan Safari Kemanusiaan dengan berbagai elemen bangsa termasuk para tokoh lintas agama. Sebagai rangkaian dari kegiatan ini, Sarbini bertemu dengan Rohaniawan Katolik yang juga staf khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Romo Antonious Benny Susetyo, Senin/22 November 2021, di Gedung BPIP, Jakarta Pusat. Dalam pertemuan tersebut, Sarbini memperkenalkan MER-C sebagai sebuah lembaga sosial dengan misi kemanusiaan dan perdamaian yang saat ini salah satu fokusnya adalah mendorong kemerdekaan Palestina sebagai bagian dari tanggung jawab sejarah dan tanggung jawab konstitusi bangsa Indonesia. Romo Benny menyatakan dukungannya terhadap upaya MER-C. Menurutnya Palestina adalah masalah global yang harus didukung semua pihak. “Kami memberi dukungan, sikap Paus mengatakan bahwa Palestina juga harus memiliki negara sendiri dan Yerusalem sebagai kota internasional. Jadi ini sebenarnya momentum kita bersama untuk merajut kemanusiaan. Karena teman-teman Kristen juga ingin merdeka dari Israel. Ini persoalan global. Kita mendukung karena kemanusiaan dan ini harus didukung semua pihak. Ini bagian dari misi kemanusiaan yang tidak mengenal agama, suku, etnis. Kita punya komitmen yang sama bahwa Palestina harus memiliki kemerdekaan dan negeri,” tegasnya. Ia juga mengapresiasi langkah MER-C yang telah membangun Rumah Sakit Indonesia dan bantuanlainnya di Palestina. Baginya, apa yang dilakukan MER-C sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. “Kita bersyukur karena MER-C mampu membangun solidaritas kemanusiaan itu. Ini harus didukung oleh semua umat beragama di Indonesia,” ujarnya. “Apalagi negara ini berdasarkan Pancasila, nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, mencintai Tuhan berarti mencintai manusia, sehingga yang dilakukan MER-C mengaktualisasi nilai Pancasila dalam praksis yang jelas sekali berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal,” tambahnya. Dalam pertemuan tersebut Sarbini juga menyampaikan harapannya agar Indonesia ke depan bisa memainkan peran lebih di Palestina. “Kami berharap Romo Benny dapat menyampaikan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, agar Indonesia bisa menjadi perekat antara Hamas, Fatah dan Kelompok-kelompok lain yang ada di Palestina,” ujar Sarbini. Menanggapi hal ini Romo Benny menyampaikan bahwa ini adalah komitmen sejak Presiden Indonesia pertama bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. “Itulah komitmen Ir. Soekarno. Siapapun Presidennya, Indonesia punya misi, yaitu Palestina harus merdeka. Itu harus kita perjuangkan bersama-sama.” Menurutnya Indonesia sudah berperanan aktif untuk Palestina. Ia juga sependapat bahwa tidak hanya pemerintahan, namun civil society seperti NU dan Muhammadiyah juga bisa berperan menjadi penengah dalam konflik Palestina. “Kita berharap organisasi NU dan Muhammdiyah bisa menjadi mediator untuk mengupayakan rekonsiliasi dan perdamaian, menghentikan kekerasan kemudian terciptanya Palestina yang merdeka. Ini bisa, saya yakin,” pungkasnya. “Safari Kemanusiaan” adalah bagian dari upaya MER-C sebagai lembaga sosial untuk kemanusiaan dan perdamaian dalam rangka mendorong kemerdekaan Palestina. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab sejarah dan tanggung jawab konstitusi MER-C sebagai eleman anak bangsa untuk menguatkan dukungan bagi kemerdekaan Palestina dan mengkomunikasikan ke semua pihak bahwa persoalan Palestina bukan hanya milik umat Islam, namun merupakan masalah dan tanggung jawab bersama. Dalam rangka mendorong kemanusiaan dan perdamaian, selain di Palestina, MER-C juga telah membangun Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State (Myanmar) yang dilakukan bersama PMI (Palang Merah Indonesia) dan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia).

Dorong Kemerdekaan Palestina, MER-C Lakukan Safari Kemanusiaan

Dalam upaya mendorong dan mendukung kemerdekaan Palestina, lembaga sosial medis untuk kemanusiaan dan perdamaian, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia melakukan program yang diberi nama ‘Safari Kemanusiaan untuk Kemerdekaan Palestina’. Sarbini Abdul Murad, Ketua Presidium MER-C, memandang Safari Kemanusiaan perlu dilakukan untuk mengkomunikasikan permasalahan Palestina kepada semua pihak dan semua elemen anak bangsa untuk bersama-sama membantu dan mencari jalan keluar dalam mendukung terwujudnya kemerdekaan Palestina.   “MER-C mempunyai satu program yaitu ‘Safari Kemanusiaan Mendukung Kemerdekaan Palestina’. Ini untuk mengkomunikasikan dengan segenap pihak, dengan tokoh-tokoh lintas agama, tokoh-tokoh pers, pemuda dan aktifis-aktifis kemanusiaan agar masalah Palestina bisa bersama-sama kita bantu, bersama-sama kita tanggulangi,” ucap Sarbini dalam pernyataannya di Kantor Pusat MER-C di Jakarta, Jum’at/12 November 2021. Sarbini menyampaikan bahwa Palestina adalah salah satu negara peserta Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang sampai hari ini belum merdeka. Menurutnya, Indonesia sebagai negara muslim terbesar yang sama-sama lahir dari penderitaan penjajahan dimana pada pembukaan UUD 1945 juga jelas menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka menjadi tanggung jawab konstitusi dan kewajiban semua untuk melakukan suatu kerja keras agar Palestina bisa merasakan kemerdekaan seperti negara-negara lain.  “Oleh sebab itu, ini menjadi tanggung jawab sejarah, tanggung jawab konstitusi, tanggung jawab kita bersama untuk mendorong semua pihak agar bisa memerdekakan Palestina,” tegasnya. Dalam pernyataannya, Sarbini mengajak semua pihak agar masalah Palestina menjadi fokus dan pemikiran bersama. “Banyak tokoh-tokoh yang selama ini mungkin sepi untuk berbicara tentang Palestina, senyap untuk berfikir untuk Palestina, kami mengajak semua kita agar masalah Palestina menjadi titik fokus kita, menjadi pokok pemikiran kita bersama, agar saudara-saudara kita di Palestina bisa mendapatkan kemerdekaan sebagaimana yang kita rasakan pada hari ini,” tambah Sarbini. Upaya Safari Kemanusiaan yang dilakukan MER-C saat ini menurutnya sejalan dengan apa yang pernah dikatakan Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama. “Harus kita ingat, Bung Karno pernah mengatakan bahwa ‘Kami Bersama Palestina sampai Palestina Mendapatkan Kemerdekaan’. Ini adalah suatu hal yang MER-C lakukan. Mudah-mudahan ini didukung oleh semua pihak sehingga MER-C menjadi bahagian dari duta Palestina untuk mengkomunikasikan proses ini kepada semua lapisan masyarakat, semua elemen anak bangsa. Mudah-mudahan kita bisa bersama Palestina dalam mendorong dan mendukung kemerdekaan Palestina,” harap Sarbini. MER-C telah memulai program ini dengan bertemu dan mengkomunikasikannya ke Tokoh agama Katolik. Pertemuan dan komunikasi serupa akan terus dilakukan ke tokoh-tokoh lintas agama yang lain dan ke semua elemen anak bangsa.   Selengkapnya : https://youtu.be/BIr84-IubDI Jakarta, 12 November 2021Medical Emergency Rescue Committee

Safari Kemanusiaan, MER-C Bertemu Pengamat Timur Tengah dari UI

Depok, MINA – Lembaga medis dan perdamaian, Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) dipimpin dr. Sarbini Abdul Murad bertemu Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi di Depok, Ahad (7/11). Dalam pertemuan yang merupakan rangkaian Safari Kemanusiaan MER-C itu, Sarbini menyampaikan pentingnya semua pihak berdiskusi tentang kondisi Palestina. Ia menegaskan, penderitaan Palestina tidak boleh dimanfaatkan dalam bentuk apa pun. “Orang-orang hanya respek ketika ada peristiwa besar, tapi begitu peristiwa besar itu hilang, maka lupa itu tentang Palestina. Jadi saya ingin mencoba mengkomunikasi bahwa kita punya dua tanggung jawab terhadap Palestina, yaitu tanggung jawab konstitusi dan tanggung jawab sejarah. Ini yang ingin kita sampaikan melalui Safari Kemanusiaan,” ujar Sarbini. Menurut Sarbini, aksi-aksi kemanusiaan yang selama ini dilakukan belum mampu membuka mata Israel terkait penderitaan bangsa Palestina. Maka, kata dia, Indonesia sebagai rumah umat Islam yang besar perlu bersikap lebih nyata dalam mendukung Palestina. Sementara itu, Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi membenarkan apa yang disampaikan Sarbini. Menurutnya, memang Palestina membutuhkan dukungan lebih dari banyak pihak. “Negara yang mengakui Israel sudah banyak, dari Amerika hingga Uni Eropa. Yang mengakui Palestina belum terlalu banyak. Sementara yang mengakui keduanya sejauh ini hanya Rusia atau Cina saja. Jadi dukungan terhadap Palestina masih jauh,” katanya. Menurut Yon, Palestina bisa memunculkan kekuatan yang besar apabila dua fraksi besar di negara itu bisa bekerja sama, yakni Hamas di Jalur Gaza dan Fatah di Ramallah. Hanya saja, kata dia, rekonsiliasi kedua fraksi tersebut tidak mungkin dibiarkan begitu saja oleh Israel. “Memang untuk berhadapan dengan Israel itu ada dua sisi, berinteraksi dengan perlawanan atau diplomasi. Dan dua-duanya sudah dilakukan oleh Palestina, tetapi memang terpisah, yakni Hamas dengan perlawanannya, kemudian PLO dengan diplomasinya,” tuturnya. Yon menjelaskan, selama Hamas dan Fatah belum bersatu, maka akan sulit untuk berhadapan dengan Israel. Ia pun menyarankan pihak eksternal, khususnya dari Indonesia untuk memediasi rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah. “Minimal masyarakat akar rumput di Palestina bersatu. Mungkin kalau langsung tokoh sentralnya ini akan sulit, tetapi kalau dimulai dari masyarakat, minimal sampai ke tokoh-tokoh menengah, ini bisa dilakukan,” katanya. Terkait kepedulian terhadap Palestina, Yon mengapresiasi langkah MER-C yang melakukan Safari Kemanusiaan ke semua kalangan. Hal itu, menurutnya, bisa menjadi langkah awal memberikan dukungan yang besar kepada Palestina. Sumber : https://minanews.net/safari-kemanusiaan-mer-c-bertemu-pengamat-timur-tengah-dari-ui/

MER-C Bertemu Romo Magnis Bahas Palestina

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dr. Sarbini Abdul Murad bertemu dengan Romo Frans Magnis Suseno untuk membahas konflik Palestina – Israel, Jumat (30/10). Pertemuan ini dalam rangka Safari Kemanusiaan MER-C dengan Tokoh-Tokoh Lintas Agama untuk Palestina. Langkah demikian sudah dilakukan MER-C sejak lama untuk mempersatukan bahwa persoalan Palestina bukan hanya masalah umat Islam, namun semua agama mempunyai kepentingan karena sisi kemanusiaannya. Menurut Sarbini, MER-C sebagai organisasi sosial untuk kemanusiaan dan perdamaian berupaya mengajak semua tokoh agama mendukung kemerdekaan Palestina karena ini panggilan konstitusi dan hutang sejarah kita dimana Palestina satu-satunya peserta Konferensi Asia Afrika tahun 1955 yang hingga saat ini belum merdeka. Pada pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut, Ketua Presidium MER-C berdiskusi dan meminta pandangan serta masukan dari salah satu Tokoh Agama Katolik senior Indonesia ini tentang konflik Palestina – Israel dan upaya bersama sebagai elemen bangsa dan warga dunia untuk menyelesaikan konflik ini. “Kita mengharapkan konflik ini bukan konflik agama, namun konflik ini bisa diselesaikan secara bersama-sama,” ujar Sarbini. “Orang ramai membahas Palestina ketika ada pengemboman di sana, namun setelah itu kita lupa. Padahal masalah konflik Palestina – Israel lebih besar dari itu dan luar biasa, sehingga perlu dukungan banyak pihak,” tambahnya. Sarbini juga memaparkan program yang telah dilakukan MER-C untuk Palestina selama lebih dari 12 tahun terakhir, yaitu pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang merupakan bantuan murni dari rakyat Indonesia melalui MER-C. Menanggapi hal ini, Romo Magnis memberikan pandangannya bahwa membantu orang-orang Palestina itu sangat terpuji karena rakyat Palestina mengalami penjajahan yang sangat serius. Ia juga sepakat dan mendukung langkah MER-C bahwa permasalahan di Palestina bukan hanya milik umat Islam karena di sana ada bermacam-macam agama. “Saya kira membantu orang-orang Palestina itu sangat terpuji karena mereka mengalami terjajah yang sangat serius. Kalau bantuan dalam bentuk rumah sakit, tentu saya sangat mendukung itu,” ujarnya. “Palestina itu bukan masalah Islam saja, karena orang Kristen di sana di Palestina, ada Katolik, Ortodoks, macam-macam, semua orang Arab, semua itu penduduk Palestina dan mereka sama. Saya kira itu penting sekali. Tapi tidak apa-apa kalau Islam sangat kuat mendukungnya,” tambahnya. Namun ia mengakui bahwa situasi di Palestina pada umumnya tidak mudah, masalahnya konflik politis kemanusiaan dan etis. Ia sepakat bahwa orang Palestina baik di Tepi Barat maupun di Jalur Gaza berhak atas kebebasan penuh dan itu berarti mempunyai negara berdaulat. Permasalahan Jerusalem menurutnya lebih kompleks sedikit. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa eksistensi Israel jangan dipersoalkan lagi. “Saya bertolak dari anggapan bahwa eksistensi Israel jangan dipersoalkan lagi. Israel itu sendiri masuk dalam eksistensi yang tentu bisa sangat diragukan, tapi sudah lama diakui oleh PBB dan oleh umumnya masyarakat dunia, jadi policy bahwa Israel harus dibubarkan, itu salah besar,” katanya. “Saya tidak melihat hal lain daripada two-state solution. Israel tetap, Palestina West Bank tetap. Dulu termasuk Jordan, sebelum perang enam hari. Itu juga masih posisi mengapa bukan satu negara. Tapi kalau satu negara sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi itu tidak mungkin untuk Israel karena mayoritas di sana orang Arab. Israel tidak membangun negara Israel sebagai pelarian dari segala macam lalu mendapat mayoritas Arab, jadi itu tidak mungkin,” tambahnya. Namun ia menegaskan bahwa yang membuat two-state solution itu sulit dan menurutnya itu sabotase Israel adalah pemukiman-pemukiman, dimana menurutnya ada keterlibatan Amerika Serikat. Pemukiman dimulai sekitar tahun 1971 dan sekarang ada sekitar 2,8 juta orang Palestina Arab, juga banyak Kristen di situ walau mayoritas Islam. Namun agama menurutnya tidak menjadi masalah. Kini sudah lebih dari setengah juta Yahudi dengan 1.600 rumah baru akan didirikan. “Lalu bagaimana AS memberi semacam two-state solution, dimana lalu pemukiman itu termasuk Israel dan Israel juga menuntut sungai Jordan, lalu yang tinggal dari Palestina itu apa?” ujarnya. Ia menganalogikan hal ini membuat wilayah Palestina menjadi seperti keju Swiss, keju yang ada lubang-lubangnya. Itu tidak akan mungkin,” ujarnya. Jadi lepas dari masalah etika, menurutnya Israel mengira bisa selamanya menindas masyarakat Arab di Tepi Barat. Tentu tidak. Ia mencontohnya apartheid di Afrika yang juga tidak bisa dipertahankan untuk selamanya. Situasi ini diperparah lagi dengan dukungan terhadap Palestina di kalangan Arab Islam yang menurut pengamatannya semakin menipis. “Tahun-tahun terakhir ini beberapa negara Arab yang sudah membangun hubungan diplomatic dengan Israel dan membuat situasi lebih mantap bagi Israel. Israel mengira sekarang anginnya pro, dalam hal ini Amerika Serikat selaku mendukung. Eropa tidak begitu. Kalau negara-negara Timur Tengah diam-diam mendukung Israel. Indonesia menurut pandangannya tentu tidak mau mendukung Israel, karena manfaatnya sangat sedikit dan memberi senjata bagi golongan Islam terutama yang keras untuk bereaksi.” Romo Magnis menekankan bahwa meskipun Palestina bukan masalah Islam, tapi dalam kenyataan Islam penting di situ. “Saya lebih suka kalau Islam mainstream Indonesia yang moderat, yang pro NKRI membicarakan itu secara berani. Satu-satunya yang dulu berani itu Gusdur,” ujarnya. Menyinggung tentang AS dan Jerusalem, Romo Magnis menyatakan ketidaksetujuannya terhadap langkah yang diambil Amerika Serikat. Sikap dan posisinya menurutnya sesuai dengan posisi resmi Vatikan terhadap masalah ini. “Saya tidak mendukung posisi Amerika Serikat terhadap Israel karena Amerika Serikat sudah mengakui Jerusalem sebagai Ibukota Israel. Menurut saya itu tidak tepat, juga yang dilakukan Israel di Jerusalem belum lama ini sekitar setengah tahun yang lalu sehingga menyebabkan terjadinya kerusuhan. Kerusuhan itu muncul sebetulnya karena Israel mau mengosongkan beberapa rumah di suatu daerah tertentu dengan alasan dulu orang Yahudi tinggal disitu sebelum tahun 1947, dan Jerusalem sudah termasuk Israel sehingga mereka boleh kembali,” terangnya. Terkait hal ini, ia menceritakan pengalamannya sendiri ketika ia dan keluarga terusir akibat Perang Dunia ke-2. “Saya sendiri mengalami pengusiran juga sebagai hukuman terhadap Jerman karena Perang Dunia ke-2. Saat itu akhirnya kami ke Cekoslovakia, kami dibawa ke kamp pengungsi dsb. Tempat saya dulu diisi dengan orang-orang Polandia yang disuir dari Uni Soviet Barat waktu itu. Jadi hilang semua keluarga saya. Padahal kami keluarga bangsawan, kami punya tanah cukup banyak, itu hilang semua. Tapi Jerman sudah mengakui itu, tidak lagi menuntut,” kisahnya. “Saya mendukung posisi Vatikan mengenai Jerusalem untuk diinternalisasikan di bawah PBB, sebab Jerusalem merupakan kota suci tiga agama,” tegasnya. Menyinggung tentang bantuan Rumah Sakit Indonesia yang sudah dibangun rakyat Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, Romo Magnis menyatakan dukungannya terhadap program RS Indonesia yang menurutnya sebuah langkah

Silahkan bertanya?