MER-C Adakan Layanan Kesehatan dan Bantuan Kemanusiaan untuk Pengungsi Rohingya di Aceh

ER-C Indonesia pada hari Sabtu (13/7) mengadakan pelayanan kesehatan serta penyaluran bantuan kemanusiaan bagi ratusan pengungsi Rohingya di Aceh. Kordinator MER-C Aceh Ira Hadiati mengatakan, program bantuan dan layanan kesehatan ini dilakukan karena masih banyak pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh dengan kondisi memprihatinkan. “Terlepas dari masalah politik atau isu internasional tentang manusia kapal ini, MER-C selaku lembaga kemanusiaan yang bersifat netral tergerak untuk ikut serta menangani masalah ini. MER-C sendiri sudah pernah terjun langsung ke Rakhine, Myanmar, saat membangun Rumah Sakit Indonesia, jadi tahu bagaimana kondisi mereka di sana,” ujarnya. Terkait program bantuan lebih lanjut untuk pengungsi Rohingya ini, Ira mengatakan akan berkoordinasi dengan jajaran Presidium MER-C di Jakarta. Layanan kesehatan dilakukan oleh relawan dari MER-C Cabang Medan yang terdiri dari dua dokter umum yaitu dr. Miftahul Masruri sebagai Koordinator Lapangan dan dr. Aulia Rachman, tiga perawat Ade Andrian, S.Kep, Ns, M.Kep, Aspri Darmawan, S.Kep, Ns dan Bima Anggara, S.Kep serta satu dokter muda Norman Hakim, S.Ked. Kordinator Lapangan untuk pelayanan kesehatan pengungsi Rohingya, dr. Miftahul, mengatakan tim mendapati para pengungsi banyak mengalami penyakit kulit dan pernafasan karena kondisi lingkungan memang kurang bersih, di mana satu tempat pengungsian diisi oleh ratusan orang. “Para pengungsi sendiri menyambut hangat kedatangan Tim MER-C, karena memang mereka mengharapkan adanya bantuan. Kami sendiri tadi cukup kewalahan karena memang hampir semua ingin berobat dan hampir semua dari anak-anak hingga dewasa mengalami penyakit kulit atau pencernaan,” ujarnya. dr. Miftahul mengungkap, sudah ada tim medis yang memang ditugaskan untuk memberikan pelayanan bagi pengungsi Rohingya. Mereka bertugas dalam tiga shift dari Senin-Jumat, jadi saat relawan MER-C datang tim yang biasa bertugas sedang libur. Selain memberikan pelayanan kesehatan, relawan MER-C bersama Fakultas Bisnis Islam UIN Ar-Raniry juga membagikan bantuan berupa sembako dan obat-obatan, bantuan paket higienis untuk dewasa dan anak-anak yang berisi sikat gigi, handuk, sabun mandi, shampoo, serta pakaian bayi dan makanan tambahan untuk anak-anak, dengan total 237 paket. MER-C juga menyerahkan bantuan 7 buah kipas angin agar sirkulasi udara di pengungsian bisa lebih baik, serta peralatan ibadah seperti iqra dan Al Quran, mukenah, sarung, dan buku pengayaan agama. Saat ini para pengungsi membutuhkan fasilitas sanitasi yang lebih baik, karena yang ada sekarang masih belum memadai. PBB menggambarkan etnis Rohingya sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia dan kelompok hak asasi manusia menyebut mereka menghadapi genosida. Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, meninggalkan Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras pada Agustus 2017, sehingga menambah jumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh menjadi lebih dari 1,2 juta orang. Setiap tahun, ribuan warga Rohingya juga meninggalkan Myanmar, mempertaruhkan nyawa dalam perjalanan laut yang panjang dengan kondisi kapal yang buruk, untuk bisa mencapai Malaysia atau Indonesia.
Pembangunan RS Indonesia di Rakhine (Rohingya) Myanmar Terus Berjalan

Sejak dimulai pada bulan November 2017, pembangunan bangunan utama RS Indonesia yang terletak di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar terus berjalan. Progress pembangunan saat ini sudah dalam tahap back filling (penimbunan tanah) dan compacting (pemadatan). Pembangunan bangunan utama RS Indonesia akan memakan waktu 10 bulan dan diperkirakan selesai pada bulan September 2018. Dua insinyur Indonesia yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza (Palestina) ditugaskan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS ini hingga selesai. Dukungan dan donasi Sahabat bagi program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.130.6833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee Info lebih lanjut : Website : www.mer-c.org Facebook : MER-C Indonesia Call Center : 0811990176 |Peduli untuk Kemanusiaan yang Lebih Baik| #RSIndonesiadiRakhineMyanmar #PeduliUntukKemanusiaanYangLebihBaik
Mengenal Popo, Pelukis Mural Peduli Rohingya
MINA – Di antara kita mungkin sudah ada yang mendengar nama Ryan ‘Popo’ Riyadi, salah seorang seniman jalanan atau street artist yang karya-karya muralnya banyak menghiasi tembok-tembok ibukota Jakarta. Lelaki yang akrab disapa Popo itu sering menggambar karakter ‘Popo’ dalam setiap karyanya dibumbui dengan tulisan-tulisan kritis. Selama belasan tahun, lelaki peraih penghargaan ‘The Best Mural Artist’ pada Tembok Bomber Award 2010 ini selalu menghadirkan kritikan dalam setiap karyanya, walau tidak semua orang setuju dengan cara dia. Bahkan, Popo pernah juga diprotes dosen di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, lantaran hobinya corat-coret ini. Tapi siapa sangka, beberapa tahun kemudian Popo malah ikut mengajar sebagai dosen mata kuliah komunikasi visual di almamaternya itu. Dalam sebuah wawancara khusus dengan Popo di tempat biasanya nongkrong, penulis sempat berbincang soal beberapa hal menarik dengan Duta Campaign RS Indonesia ini, salah satunya soal krisis kemanusiaan di Rakhine State, Myanmar. Popo yang cukup peka terhadap situasi di sekitarnya langsung merespon dengan pernyataan kritisnya. “Banyak manusia hidup berdampingan, tapi sedikit yang berkemanusiaan. Ini sebenarnya kita tunjukan bagi tempat-tempat yang di mana ada banyak orang tetapi di sana tidak ada nilai kemanusiaan,” kata Popo kepada wartawan Mi’raj News Agency(MINA) Rendy Setiawan di Gudang Sarinah Pancoran, Jakarta, Jum’at (7/10). Meskipun lahir dan besar di Indonesia, Popo cukup konsisten mengikuti perkembangan terkini yang terjadi di Myanmar maupun di Palestina. Menurut Popo, krisis-krisis yang terjadi di dua wilayah itu tak perlu terjadi apabila keberagaman dijaga sebagaimana mestinya. “Kita sering mendengar ajakan untuk saling menghargai dalam keberagaman. Tapi di sisi lain kita melihat ada banyak krisis kemanusiaan yang terjadi, contoh di Myanmar dan Palestina. Sebenarnya bukan hanya di dua wilayah itu saja, apabila nilai-nilai kemanusiaan itu dijaga, krisis seperti itu seharunya nggak perlu terjadi,” katanya. “Ini pelajaran dari apa yang pernah disampaikan oleh ayah saya. Jadi kalau mau menolong, harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” katanya menambahkan. Apabila diperhatikan lebih teliti, semua karya yang pernah diciptakan Popo, sebagian besar memuat pesan kritik sosial. Hal itu tak terlepas dari peran ayahnya yang selalu memotivasi untuk selalu memperhatikan kondisi sekitar. “Banyak cara untuk mengekspresikan apa yang ingin kita sampaikan, salah satunya dengan komunikasi non verbal, dan melalui lukisan-lukisan mural ini salah satunya,” katanya. Popo melanjutkan, untuk membantu orang-orang, tidak harus menunggu isu global seperti kelaparan, perang dan krisis lainnya. Cukup dengan memberikan makan kepada tetangga kita yang lapar, itu sama saja sudah menolong banyak orang. “Kemanusiaan tidak bisa dilepaskan dari keadaan sosial di sekitar kita. Contoh gampangnya begini, kadang kita kenyang tapi ada di sekitar kita yang kelaparan. Kalau ini terjadi, berarti nilai kemanusiaan kita harus dikritik. Kritikan yang saya lontarkan secara khusus sebenarnya ditunjukkan untuk diri saya sendiri,” paparnya. Popo berpesan, sebelum memenuhi hasrat keinginan kita, ada baiknya untuk melihat kondisi sosial di sekitar terlebih dahulu. Hal itu dilakukan sebagai cara untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan agar selalu merasa dekat dengan lingkungan di sekitar. “Sebelum memenuhi keinginan kita, ada baiknya kita lihat dulu sekeliling kita,” pesannya. Menurut Popo, kritik sosial atau kondisi kemanusiaan yang selalu menjadi temanya adalah sebagai cara untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan masyarakat Indonesia khususnya. “Saya pikir ini nggak bisa lepas dari kehidupan sosial,” ujarnya. “Harus selalu sabar ketika hidup berdampingan dalam usaha menumbuhkan nilai-nilai sosial kepada orang yang kita kenal maupun yang nggak kita kenal. Tetapi yang terpenting untuk diri sendiri,” katanya lagi. Ketika disinggung soal ‘Popo’ yang menjadi karakter dalam setiap karyanya, Popo mengatakan, itu sudah menjadi identitas dirinya. “Popo menjadi signature, menjadi identitas saya. Jadi di setiap karya saya itu ada saya yaitu Popo,” katanya. (W/R06/B05) Sumber : www.mirajnews.com
Masjid Nurussalam Kerahkan Remaja Dan Orang Tua Galang Dana untuk Rohingya

Jakarta, (MINA) – Di sepanjang jalan Kalimalang, penampakan anak-anak usia 12 tahun sampai orang tua menjadi tidak asing dalam sepekan ini, mereka terlihat membawa kardus bertuliskan “Donasi untuk Rohingya” dan mendekati kendaraan-kendaraan yang berhenti di lampu merah. Donasi yang diinisiasi DKM Masjid Jami’ Nurussalam di Kampung Baru, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, tersebut berhasil mengumpulkan setidaknya 30 juta rupiah sejak pertengahan September lalu. Salah satu pengajar di Masjid tersebut yang juga bekerja di Pondok Darul Ilmi Citeurep-Bogor juga mengumpulkan bantuan serupa hingga mencapai 12 juta 770 ribu rupiah dan keduanya menyerahkan bantuan tersebut melalui lembaga kedaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang saat ini tengah membangun RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Ketua Penggalangan Dana Masjid Nurussalam Abdu Shomad mengatakan kepada Mi’raj News Agency (MINA), pihaknya menurunkan anak-anak dan remaja hingga orang tua sebagai bukti pendidikan dan pemberdayaan umat melalui masjidnya. “Ini foto anak saya lagi ikutan juga,” katanya sambil menunjukkan salah satu foto di lokasi penggalangan dana. Serah terima bantuan dilakukan bersamaan dengan kegiatan puncak Muharam di area Masjid yang juga menampilkan beragam kreatifitas anak dan remaja di area tersebut, seperti tarian, nasyid, dan ceramah yang disampaikan oleh anak berusia belasan tahun. Dalam sambutannya, Presidium MER-C Sarbini Abdul Murad mengapresiasi DKM Masjid yang telah berusaha semaksimal mungkin memberdayakan umatnya melalui Masjid. Sarbini juga menjelaskan situasi dan kondisi terkini warga Muslim Rohingya kepada warga sekitar yang hadir pada perayaan malam itu. “Oleh karenanya, MER-C bersama PMI dan Walubi saat ini bekerjasama tengah membangun sebuah rumah sakit di sana,” ujar pria yang akrab disapa dengan panggilan Dr. Ben itu. Dia menegaskan tujuan jangka panjang dari pembangunan RS tersebut adalah untuk menjelaskan keberagamaan kita kepada warga Myanmar. Bahwa minoritas di negara ini mampu hidup dengan damai dan tanpa mengalami diskriminasi. “Indonesia sebagai mayoritas Muslim, dan di sini minoritas bisa hidup dengan baik. Kita ingin mengenalkan RS Indonesia ini sebagai simbol keberagaman. Di situ ada Muslim, Budha dan lain-lain yang dirawat. Untuk mempersatukan,” tambahnya. Dr. Ben juga menuntut pemerintah Myanmar untuk membuka askes bantuan dari berbagai LSM Internasional yang hendak masuk ke lokasi konflik guna memberikan pelayanan kesehatan dan asistensi lainnya. “Jika pemerintah Myanmar mampu mengizinkan hal tersebut, insyaallah konflik akan mereda,” ujarnya.(L/RE1/RS2) Sumber : http://www.mirajnews.com/2017/09/masjid-nurussalam-kerahkan-remaja-dan-orang-tua-galang-dana-untuk-rohingya.html
Rabithah Alawiyah Salurkan Donasi untuk Rohingya melalui MER-C

Jakarta – Rabithah Alawiyah sebuah organisasi yang menghimpun WNI keturunan Arab khususnya kaum Alawiyyin menyalurkan donasi untuk Rohingya senilai 165 juta rupiah melalui MER-C. Dalam kesempatan silaturahim di Kantor Pusat DPP Rabithah Alawiyah di Jl. TB. Simatupang No. 7 A, Sabtu (23/9), Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad menyampaikan terima kasih atas dukungan dan bantuan yang diberikan Rabithah Alawiyah. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Sarbini yang didampingi oleh Pimpinan Proyek Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Myanmar, Drs. Ichsan Thalib, memaparkan mengenai pengalaman misi MER-C, sekaligus situasi terkini dan program pembangunan RS Indonesia di Myanmar. Sarbini juga mengungkapkan bahwa MER-C konsisten untuk membangun rumah sakit di daerah-daerah konflik. “Saat ini di Rakhine, lalu setelah Rakhine selesai, kita berencana membangun rumah sakit di Tepi Barat. Tidak hanya di luar negeri, di dalam negeri seperti Papua, pembangunan puskesmas di Aceh yang saat ini sudah diserahkan kepada pemerintah setempat, di Piyungan Jogja, juga pembangunan rumah sakit di Galela. Kami bisa bangkit karena dukungan banyak pihak seperti Rabithah Alawiyah,” tandasnya. Sementara itu, Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar bin Smith menyampaikan keinginannya agar bisa bersama-sama merealisasikan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, khususnya untuk para pengungsi dan penduduk Rohingya dan terbuka juga untuk kalangan non muslim di sana yang harus dibantu. “Semoga konflik ini segera berakhir,” tambahnya. Ia juga berharap Rabithah Alawiyah dan MER-C akan terus bergandengan tangan untuk hal-hal yang sifatnya ke arah bantuan kemanusiaan tidak hanya untuk Rohingya dan luar negeri, termasuk juga bantuan kemanusiaan lainnya di Indonesia.
SMKN 1 Serang Serahkan Bantuan untuk Rohingya Melalui MER-C

Serang, (MINA) – Penggalangan dana kemanusiaan untuk warga Rohingya tengah bergulir di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya dilakukan para pelajar provinsi Banten ini. Dikoordinir pemimpin rohaniawan sekolah (rohis), para pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Kota Serang Banten menggelar nonton bareng dan penggalangan dana untuk warga Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh akibat penindasan militer baru-baru ini. Penggalanan dana dilakukan sejak 20-21 September 2017 di sekolah tersebut berhasil mengumpulkan 5,7 juta rupiah. Dana diserahkan melalui lembaga kedaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) untuk kemudian dialokasikan ke pembangunan RS Indonesia di Rakhine State Myanmar yang saat ini baru dimulai. Dalam acara serah terima yang berlangsung pada Jumat (22/9), tim konstruksi pembangunan RS Indonesia tersebut Nur Ikhwan Abadi menjelaskan kepada setidaknya dua ribu siswa yang hadir mengenai visi dan misi MER-C sebagai lembaga kedaruratan yang fokus pada bantuan jangka panjang dengan mengedepankan prinsip kemanusiaan netral tanpa melihat latar belakang yang ditolongnya. “MER-C berkomitmen bergerak di bidang kemanusiaan dan mengedepankan netralitas tanpa memandang suku atau agama yang kami bantu,” tegasnya disambut tepuk tangan dan sorakan para siswa. Sementara itu, ketua Rohis sekolah tersebut Rifki Safarudin mengatakan kepada Mi’raj News Agency (MINA), para siswa merespon dengan keprihatinan besar tidak lama setelah menonton dokumentasi warga Rohingya yang saat ini tidak jelas nasibnya. “Responnya luar biasa, mereka sangat prihatin untuk Rohingya, jadi kami galang dana juga,” katanya. Saat ditanya jika ada kesempatan untuk berangkat kesana, Rifki mengaku ingin membantu secara langsung saudara-saudaranya di sana dan menurutnya antusias para pelajar yang peduli terhadap Rohingya di sekolahnya juga relatif tinggi.(L/RE1/R01) Sumber : http://www.mirajnews.com/2017/09/smkn-1-serang-serahkan-bantuan-untuk-rohingya-melalui-mer-c.html
Alumni UI dan MER-C Jalin Kerjasama Bantu Rohingya

Jakarta, MINA – Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) melakukan penandatanganan kerjasama dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dalam aksi kemanusiaan bantu Rohingya. Acara penandatanganan kerjasama sendiri dilakukan di Sekretariat Iluni UI, Jalan Salemba Raya 4, Jakarta Pusat, Rabu (20/9). “Iluni UI dan MER-C jalin kerjasama jangka panjang, dalam waktu dekat ini kita kerjasama terkait untuk membantu Rohingya,” kata Ketua Umum Iluni UI Arief Budhy Hardono usai acara penandatanganan. Ia mengatakan, alumni Universitas Indonesia yang tergabung dalam Iluni UI sendiri ada banyak dan memiliki keahlian dan latar belakang yang bisa ikut berkontribusi dalam aksi kemanusiaan. Alasannya memilih kerjasama dengan MER-C, menurut Arief karena MER-C sudah berpengalaman dalam aksi-aksi kemanusian dan jelas program-programnya, seperti aksi bakti sosial, pembangunan RS Indonesia di Palestina, juga di Myanmar, dan lain-lain. “Sebetulnya kerjasama ini adalah untuk mendukung kegiatan MER-C dalam bantu Rohingya. Apa yang bisa kami lakukan untuk mendukung lebih, karena Iluni UI punya alumni yang banyak,” katanya. Sementara itu, Presidium MER-C Joserizal Jurnalis mengatakan, kerjasama ini selain Iluni UI mengumpulkan dana bantuan untuk Rohingya, dalam program-program bakti sosial juga akan melibatkan unsur Iluni UI. Kerjasama ini sendiri dilakukan hingga tahun 2019 mendatang dan saat ini terfokus pada bakti sosial untuk membantu Rohingya. “Selain melakukan galang dana, nanti Iluni UI juga akan gabung dalam program bakti sosial MER-C, mungkin kedepannya juga akan diikutkan ke Myanmar,” kata Joserizal. (L/R08/R01) Sumber : http://www.mirajnews.com/2017/09/alumni-ui-dan-mer-c-jalin-kerjasama-bantu-rohingya.html/amp
Klarifikasi MER-C untuk Kasus Rohingya dan Solusi MER-C untuk Warga Muslim Myanmar

Rabu/3 Juni 2015, MER-C Indonesia menggelar konferensi pers untuk memaparkan masalah konflik Myanmar berdasarkan pengalaman MER-C yang telah dua kali melakukan misi kemanusiaan ke lokasi konflik di Rakhine State, Myanmar. Bertempat di kantor pusat MER-C, konferensi pers disampaikan oleh dr. Joserizal Jurnalis, SpOT (Presidium MER-C), didampingi oleh dr. Meaty Fransisca, drs. Ichsan Thalib, dr. Hadiki Habib, SpPD, Ita Muswita dan dr. Citra Haflinda, yang merupakan tim relawan MER-C untuk Myanmar. Anggota Presidium MER-C, Joserizal Jurnalis menegaskan bahwa memang ada konflik, ada orang yang terbunuh, ada pembakaran, seperti yang terjadi Maluku dulu. Pengungsian juga terjadi dalam permasalahan Rohingya. Persoalan Rohingya menurutnya sudah ada sejak lama sebelum tahun 2012 dan ada usaha-usaha untuk membuat mereka stateless. Namun, provokasi menjadi dahsyat dengan adanya peristiwa terbunuhnya seorang wanita Budha pada 28 Mei 2012 kemudia menjadi konflik yang dimulai pada tanggal 3 Juni 2012. Sehingga, untuk melihat kasus Rohingya, setidaknya ada 3 persoalan utama dari etnis ini. Pertama, ada konflik yang terjadi pada 2012. Kedua, ada usaha stateless dari pemerintah Myanmar. Ketiga, ada orang-orang yang keluar dari Rohingya dengan berlayar untuk mencari kehidupan yang lebih baik di negara lain karena mereka tidak nyaman dengan masalah stateless ini dan masalah lainnya yang perlu dicari tahu bersama. Konflik yang mencuat pada tahun 2012 inilah yang mendorong MER-C mengirimkan Tim pertamanya ke Rakhine State Myanmar untuk memberikan pertolongan medis, tepatnya pada tanggal 12 -19 September 2012. Dengan proses perizinan dan negosiasi yang cukup sulit, akhirnya Tim bisa melakukan pengobatan di kedua kamp baik kamp Muslim maupun kamp Budha. Dr. Meaty, relawan MER-C untuk Myanmar memaparkan bahwa pada kunjungannya yang pertama pada September 2012 ke Sittwe Rakhine State, Tim tidak melihat konflik masih terjadi ataupun korban-korban pembantaian. “Namun saat itu kami saksikan ada sisa-sisa konflik seperti masjid, kuil, dan rumah-rumah penduduk yang hangus terbakar. Kamp yang terpisah antara kamp Muslim dan kamp Budha juga menunjukkan ada histori konflik antara keduanya. Selama di Rakhine State, Tim MER-C juga selalu dikawal oleh Militer Myanmar bersenjata yang dengan sangat ketat mengawasi segala tindakan tim. Yang menjadi fokus perhatian tim MER-C pada saat kunjungan misi pertama ini adalah kondisi kamp muslim yang sangat memprihatinkan kala itu. Meskipun area kamp cukup luas, namun sangat ramai dan padat serta dengan sarana yang sangat terbatas. Bahkan pos kesehatan hanya terbuat dari tenda tanpa ada peralatan medis di sana. Kami melihat pasien tergolek lemah tidak berdaya tanpa tindakan medis. Warga kamp muslim juga tidak bisa keluar dengan bebas dari kamp. Hal berbeda ditemukan oleh Tim di kamp Budha yang kondisinya lebih tertata, lebih bersih, tidak terlalu padat dan warganya bisa keluar masuk dengan mudah. Dr. Meaty yang kembali mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Rakhine State Myanmar pada Februari 2015 dan ditunjuk sebagai ketua tim ke-2 MER-C menyatakan bahwa pada 2015 tim juga sudah tidak melihat konflik terjadi saat itu. Yang ada, tim sangat kaget dengan perubahan luar biasa yang telah terjadi dalam kamp, khususnya kamp Muslim. “Sistem pendidikan sudah berjalan walaupun masih sederhana. Sistem pelayanan kesehatan yang sudah berjalan, sudah ada bangunan permanen dan semi permanen pos-pos kesehatan dengan peralatan medis yang cukup lengkap dan tenaga medis yang terjadwal.” Drs. Ichsan Thalib juga menambahkan bahwa aktifitas di dalam kamp khususnya Muslim juga dinamis. Kamp berukuran besar dan berisi ribuan orang. Kamp tampak sudah tertata oleh lembaga-lembaga UNHCR dibantu oleh berbagai negara. Kehidupan berjalan, pendidikan sudah berjalan walaupun baru sampai tingkat SD. Pasar dalam kamp hidup yang menjual berbagai kebutuhan, mulai dari bahan makanan, emas, bahkan motor ada, dan lainnya. Ichsan Thalib juga memaparkan kondisi Yangon yang disaksikan pada 2015 lalu sudah berkembang seperti bandara yang indah, jalanan macet seperti di Jakarta meskipun tidak seramai Jakarta, ada masjid dan suara adzan terdengar, pasar yang ramai yang berisi pedagang muslim dan Budha. Namun yang tetap menjadi permasalahan utama adalah: 1. Warga kamp muslim khususnya di Sittwe tidak bisa keluar masuk kamp dengan mudah serta tidak ada akses pekerjaan. Ada aturan dan proses izin yang sulit untuk bisa keluar dari kamp. 2. Masalah STATELESS dan PEMISAHAN status kewarganegaraan. Hal ini dialami tidak hanya oleh etnis Rohingya yang berjumlah sekitar 1,1jt orang, tapi juga oleh semua warga Muslim Myanmar yang berjumlah 10% dari jumlah penduduk Myanmar atau sekitar 5 juta orang. Warga muslim Myanmar memiliki Kartu Penduduk berwarna putih dan berwarna merah. KTP PUTIH artinya mereka bisa hidup, bisa sekolah namun tidak bisa mendapatkan ijazah. KTP MERAH hanya dimiliki oleh warga muslim yang sudah mapan. ——————————— Melihat permasalahan yang ada baik dari penilaian langsung tim MER-C ke Rakhine State Myanmar maupun penilaian terhadap pengungsi Rohingya yang saat ini berada di Aceh dimana MER-C melalui cabangnya di Medan telah mengirimkan 3 gelombang tim medis ke Aceh, menawarkan tiga solusi bagi permasalahan Rohingya, yaitu: 1. Pemerintah RI agar melakukan langkah-langkah diplomatik kepada Pemerintah Myanmar untuk menghapuskan masalah STATELESS warga Muslim Myanmar, agar warga muslim Myanmar, tidak hanya Rohingya bisa menjadi warga negara Myanmar sebagaimana orang Budha menjadi warga negara RI. Sehingga warga Muslim Myanmar bisa hidup berdampingan dengan Budha di Myanmar, sebagaimana orang Budha di Indonesia juga bisa hidup berdampingan dengan mayoritas muslim di negara ini. 2. Kami meminta kepada Pemerintah RI untuk menampung pengungsi Rohingya di Aceh dan kemudian mengusahakan mereka untuk dikembalikan ke Rohingya atau Myanmar. Jangan keluar dari Rohingya atau Myanmar karena kalau mereka keluar, itulah yang yang diinginkan pemerintahan rezim, seperti halnya pemerintah Israel menginginkan orang Palestina keluar dari Palestina. 3. Sebelum kedua hal di atas tercapai, pemerintah Myanmar juga harus membuka akses dan memudahkan semua usaha serta langkah-langkah kemanusiaan untuk membantu masyarakat Rakhine State. Tautan terkait : – Misi Konflik Myanmar, 2012: https://mtc.co.id/index.php/id/component/content/article?id=216:misi-konflik-myanmar-2012 – Misi Konflik Myanmar, September 2012: – Myanmar dulu dan Kini Serta Peran Penting Indonesia: https://mtc.co.id/index.php/id/berita2?id=665:myanmar-dulu-dan-kini-serta-peran-penting-indonesia
MER-C Cabang Medan Kirim Tim Medis dan Bantuan ke 3 Titik Pengungsian Rohingya

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melalui perwakilan cabangnya di Medan akan mengirimkan tim medis dan bantuan kemanusiaan ke tiga titik pengungsian Rohingya yakni di Pangkalan Susu (Langkat), Langsa (Aceh Timur), dan Lhoksukon (Aceh Utara). Tim yang dikirim ini berjumlah 5 orang yang terdiri dari 2 orang dokter dan 1 orang perawat relawan MER-C, serta 2 orang dari perwakilan ormas Islam Liga Muslim Indonesia (LMI) Sumut dan Forum Umat Islam (FUI) Sumut. Tim akan dipimpin oleh dr. Rahmad Gunawan. Pengiriman Tim bersama ini merupakan langkah sinergis untuk melaksanakan Misi Kemanusiaan yang bukan hanya bertujuan memberikan bantuan namun juga melakukan perjuangan advokasi tentang problematika Rohingya. MER-C menilai bantuan kemanusiaan saat ini belum bisa menyelesaikan masalah substansi dari kebutuhan etnis Rohingya itu sendiri. Masalah ini hanya bisa diselesaikan bila etnis Rohingya dan etnis muslim lainnya di Myanmar mendapat pengakuan kewarganegaraan (di Myanmar). Oleh karena itu, MER-C Medan bersama Ormas Islam akan melaksanakan misi bantuan dan advokasi kemanusiaan dengan tujuan utama: “Memperjuangkan Pengakuan Kewarganegaraan Etnis Rohingya dan Etnis Muslim Lainnya di Myanmar”. Untuk mencapai tujuan utama tersebut tim ini akan melakukan berbagai kegiatan di kamp pengungsian yakni : 1. Melakukan assessment kondisi kesehatan dan sosial pengungsi, asal pengungsi, perkembangan terbaru situasi Rohingya dari para pengungsi, dan hal lain seputar konflik kemanusiaan yang diderita pengungsi; 2. Memberikan bantuan pelayanan kesehatan di pengungsian yang berfokus kepada pelayanan kelompok rentan (balita, anak, ibu hamil dan menyusui, serta lansia) dan bantuan logistik jangka pendek dan perencanaan bantuan logistik jangka panjang; 3. Berkoordinasi dan berdiskusi dengan Pemda Aceh dan Pemkab Aceh Utara seputar rencana pengelolaan pengungsi; 4. Memaparkan hasil kunjungan Tim MER-C ke Myanmar 2015 kepada pihak terkait. Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin mendukung program ini dapat menyalurkan bantuan berupa : 1. Pakaian layak pakai; 2. Kebutuhan logistik non makanan yakni : popok untuk anak-anak, popok lansia, alas tidur, selimut, sarung, handuk, kebutuhan higienitas pribadi, dan permainan anak-anak; 3. Kebutuhan logistik makanan berupa makanan instan; 4. Uang tunai atau transfer melalui Rek. Donasi amanah Kemanusiaan : Bank Syariah Mandiri, Rek.7074585099, Atas nama MER-C Cab. Medan Bantuan dapat diantarkan langsung ke kantor MER-C Cabang Medan di Jalan Setiabudi, Kompleks Ruko Milala Mas Blok B 22. Contact Person MER-C Cabang Medan : Wirsal Adiansyah Harahap (081268864753)
MER-C Berangkatkan Tim ke-2 ke Rohingya Myanmar untuk Tindaklanjuti “Indonesia Health Center”

Jakarta – Senin (16/2), MER-C kembali memberangkatkan Tim Kemanusiaan ke Myanmar. Ini adalah pengiriman Tim ke-2 MER-C ke Myanmar setelah sebelumnya, pada bulan September 2012, MER-C mengirimkan tim pertama sebanyak 5 orang relawan yang telah melakukan assessment dan penyaluran bantuan medis tahap awal. Pada misi kemanusiaan ke-2 ini, Tim MER-C terdiri dari 7 orang relawan dengan berbagai keahlian, yaitu 1 dokter spesialis penyakit dalam, 2 dokter umum, 2 perawat, serta 2 relawan non medis dari divisi konstruksi dan divisi bantuan logistik MER-C. Target tim adalah kembali masuk dan menyalurkan secara langsung bantuan medis dan kemanusiaan ke wilayah konflik dan pengungsian di Provinsi Rakhine (Rakhine State), Myanmar. Selain itu, dengan amanah donasi dari rakyat Indonesia, MER-C juga akan membuat program bantuan jangka panjang di wilayah ini. Salah satu program yang telah dicanangkan dan akan ditindaklanjuti oleh Tim ke-2 MER-C adalah rencana pembangunan “Indonesia Health Center”. Hal ini berdasakan hasil assessment tim pertama bahwa fasilitas di kamp pengungsian masih sangat minim, khususnya fasilitas kesehatan bagi para pengungsi. Program bantuan yang bersifat jangka panjang seperti “Indonesia Health Center” diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang dan menjadi simbol persahabatan Indonesia dan Myanmar, serta mempererat hubungan baik rakyat kedua negara. Keberangkatan Tim ke-2 MER-C ke Myanmar dimungkinkan setelah adanya izin dari Kementerian Luar Negeri dan Kantor Kepresidenan Myanmar yang sebelumnya telah melalui proses cukup panjang. Dengan adanya izin dari Kementerian Luar Negeri dan Kantor Kepresiden Myanmar ini, diharapkan misi kemanusiaan ke-2 MER-C bisa diberi kelancaran dan keamanan untuk seluruh anggota Tim. Dari Yangon, Rabu (18/2) Tim MER-C dijadwalkan akan bertolak ke Sittwe, ibukota Rakhine State dengan menggunakan maskapai penerbangan lokal. Sesuai izin, Tim akan berada di Rakhine State hingga hari Sabtu (21/2) untuk memberikan pelayanan medis kepada para pengungsi, memberikan bantuan obat-obatan dan memberikan bantuan paket alat kesehatan. Sementara relawan dari divisi Konstruksi MER-C akan fokus melakukan survei serta koordinasi dengan pihak terkait untuk rencana pembangunan sarana kesehatan yang akan diberi nama “Indonesia Health Center”. Apabila donasi dari rakyat Indonesia masih mencukupi, MER-C akan membuat program lanjutan diantaranya berupa pembuatan sarana air bersih dan MCK. Keberangkatan tim MER-C ke Myanmar pada hari Senin ini dilepas oleh dua Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib serta sejumlah relawan MER-C di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Tim akan transit di Bangkok dan diperkirakan tiba di Yangon pada Senin malam ini, pkl. 19.00 waktu setempat. Setibanya di Yangon, Tim akan langsung berkoordinasi dengan KBRI Yangon dan sejumlah pihak terkait di Myanmar. Rekening Donasi #Hand4Rohingya dapat disalurkan melalui: BSM, 700.1306.833 An. Medical Emergency Rescue Committee Info lebih lanjut: www.mer-c.org Call center: 0811 99 0176