MER-C Gelar Pelatihan Simulasi Bencana

Jakarta, MINA – Lembaga kegawatdaruratan medis, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia menggelar pelatihan simulasi bencana, pada Sabtu-Ahad, (24-25/9), di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.     Dalam pelatihan ini, 30 peserta yang mengikuti pelatihan mendapat materi triase, manajemen logistik, Basic Life Support (BLS), penanganan korban cedera, pendarahan, patah tulang, serta cara pembidalan, evakuasi dan transportasi, overview disaster management, dan manajement posko.   Selain itu, digelar juga bincang bersama Presidium MER-C mengenai jihad profesi, dan pengenalan water rescue bersama Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS).   Ketua Presidium MER-C Sarbini Abdul Murad, dalam kesempatan itu mengatakan, banyak hal besar yang telah dilakukan bersama MER-C, seperti di luar kendali atau tidak mungkin tapi akhirnya bisa dilakukan karena kebesaran Allah.   “Banyak aktifitas besar itu terjadi bukan karena kehebatan kita. Tapi kita bisa melakukan aktivitas besar yang akal kita tidak sampai tapi kita bisa melakukan itu, ada keajaiban yang terjadi dan itu di luar kendali kita. Hal yang sulit menjadi mudah karena kuasa Allah,” ujarnya.   “Menunaikan amanah yang menjadi keberkahan untuk apa yang kita lakukan. Tugas kita adalah memberi yang terbaik untuk umat, untuk bangsa,” kata Sarbini.     Anggota Presidium Ir. Faried Thalib yang juga turut hadir menceritakan bagaimana perjuangan MER-C membangun beberapa Rumah Sakit Indonesia di daerah konflik, di Gaza, Palestina dan Rakhine State, Myanmar.   MER-C telah melaksanakan lebih dari 300 misi kemanusiaan bencana alam, perang dan konflik, baik dalam negeri maupun luar negeri   Sementara keanggotaan MER-C disebut relawan yang mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi.     Sumber : https://minanews.net/mer-c-gelar-pelatihan-simulasi-bencana-2022

Silaturahmi MER-C ke Ponpes Al Mukmin Ngruki

Perwakilan MER-C dari Jakarta dan Yogyakarta melakukan silaturahmi ke Solo dalam rangka menghadiri undangan “Setengah Abad Khidmat Pondok Ngruki Untuk Negeri”, Minggu/21 Agustus 2022,     Kegiatan ini turut dihadiri oleh Pendiri Pesantren Ngruki Ustadz Abu Bakar Baasyir, Pimpinan Pondok Pesantren Gontor KH. Abdullah Sahal, Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Prof. Muhadjir Effendy, Perwakilan Gubernur Jawa Tengah, Perwakilan Bupati Sukoharjo, dan Alumni Pesantren dari berbagai daerah.   Koordinator Tim MER-C, dr. Meaty menyampaikan, MER-C merasa bersyukur dan terhormat atas undangan ini dan berharap kegiatan ini dapat mempererat silaturahmi dan memperluas program advokasi MER-C terhadap kemanusiaan di bidang gawat darurat dan bencana ke berbagai kelompok masyarakat.   Atas permintaan pihak keluarga dan juga melalui Tim Pengacara Muslim (TPM), sejak pertama kali ditahan pada tahun 2002 dengan berbagai tuduhan hingga saat terakhir bebas murni pada Januari 2021 lalu, MER-C secara konsisten melakukan pendampingan kesehatan terhadap Ust Abu Bakar Baasyir dan keluarga.    Hal ini dikarenakan stigma radikal yang disematkan karena sikap beliau yang mendorong penegakan syariat Islam. Stigma ini menimbulkan permasalahan kemanusiaan karena banyak kelompok masyarakat yang kehidupannya diabaikan dan rentan.

Kasus Omicron Meningkat, MER-C Aktifkan Lagi Program Isomantau

Kasus varian baru Covid-19, yaitu Omicron terus meningkat. Meski tidak seganas Delta (varian sebelumnya), namun Covid-19 varian Omicron disebutkan lebih cepat penyebarannya. Mengantisipasi hal ini, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia telah mengaktifkan kembali program Isomantau atau Isolasi Mandiri Terpantau, yaitu program yang memberikan bimbingan dan pemantauan terhadap pasien-pasien terkonfirmasi Covid-19 bergejala ringan dan/atau tanpa gejala selama mereka menjalani isolasi mandiri di rumah. Program ini gratis dan terbuka untuk seluruh masyarakat Indonesia sebagai bentuk peran serta MER-C dalam membantu penanganan Covid-19 di tanah air. Ketua Tim Isomantau MER-C dr. Tasykuru Rizqa, SpPD mengatakan bahwa MER-C sudah mengaktifkan kembali program Isomantau sejak Januari 2022. “Sebenarnya program Isomantau tidak pernah kami tutup, namun seiring kasus Covid menurun, jumlah pasien yang mendaftar pun menurun. Kini ketika kasus Covid varian Omicron meningkat, mulai banyak lagi masyarakat yang menghubungi call center Isomantau MER-C untuk mendaftar dan mengikuti program ini,” ujarnya. Merespon pemberitaan tentang meningkatnya kasus Covid-19, MER-C menghimbau agar masyarakat tetap antisipatif namun juga rasional dalam mencerna informasi. Antisipatif artinya tetap konsisten menjaga budaya rajin cuci tangan dan memakai masker. Rasional artinya melihat informasi berdasarkan fakta, menghindari komentar hiperbola serta tetap mendukung usaha menjaga kesehatan masyarakat. Bagi masyarakat yang terpapar, khususnya yang bergejala ringan dan/atau tanpa gejala agar mengerjakan isolasi mandiri dengan pemantauan Tim Kesehatan yang terlatih. Hal ini dikarenakan pemantauan merupakan variable penting dalam menjaga kondisi individu dan stabilitas pelayanan kesehatan. Rumah sakit perlu kita manfaatkan seefektif mungkin untuk merawat pasien sesuai indikasi rawat, baik itu karena Covid-19 atau kasus lainnya yang non-Covid-19. Untuk itu, MER-C kembali mengaktifkan program Isomantau, sebuah layanan telemedicine yang memberikan pemantauan setiap hari selama pasien menjalani isolasi mandiri di rumah sampai masa isolasi selesai. Pemantauan rutin setiap hari ini yang membedakan Isomantau MER-C dengan program telemedicine lainnya. Dengan pemantauan rutin diharapkan pasien yang kondisinya memberat akan dapat diketahui dan segera diarahkan ke RS untuk mendapatkan penanganan. Masyarakat yang membutuhkan layanan Isomantau dapat menghubungi Call Center Isomantau MER-C di nomor 0822-9922-5050. Salam,MER-C Indonesia

MER-C dan Dinkes DKI Jakarta Lakukan Pertemuan Virtual Bahas Kerjasama Isomantau

Kasus Covid-19 varian Omicron merebak, MER-C kembali berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Pada Selasa/15 Februari 2022, Tim Isomantau MER-C yang diwakili oleh dr. Naenda Stasya, MARS dan dr. Hadiki Habib, SpPD serta beberapa relawan lainnya melakukan pertemuan virtual dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Pertemuan dimaksudkan untuk menginformasikan pengaktifan kembali program Isomantau atau Isolasi Mandiri Terpantau oleh Tim MER-C dan membahas mengenai kerjasama dalam program ini. Kerjasama MER-C dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dalam program penanganan Covid-19 bukan baru pertama kali. Kerjasama sudah berlangsung sejak gelombang pertama Covid-19 pada tahun 2020, pada gelombang ke-2 pada tahun 2021 dan kini ketika terjadi gelombang ke-3 Covid-19 dengan varian Omicron, MER-C dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta kembali menguatkan kerjasama yang ada dan mensinergikan program penanganan Covid-19 khususnya Isomantau di provinsi DKI Jakarta. Dalam waktu dekat, akan dilakukan pertemuan virtual lanjutan dengan seluruh Puskesmas di enam wilayah Provinsi DKI Jakarta untuk mensosialisasikan alur kerjasama Isomantau terbaru dan informasi lainnya yang diperlukan. Isomantau atau Isolasi Mandiri Terpantau adalah sebuah program yang memberikan bimbingan dan pemantauan terhadap pasien-pasien terkonfirmasi Covid-19 bergejala ringan dan/atau tanpa gejala selama mereka menjalani isolasi mandiri di rumah sampai masa isolasi selesai. Program ini gratis dan terbuka untuk seluruh masyarakat Indonesia sebagai bentuk peran serta MER-C dalam membantu penanganan Covid-19 di tanah air.  

Berpulangnya Ir. Ahmad fauzi Salah satu Insinyur Pembangunan RS Indonesia di Gaza dan Myanmar

Siap sedia ketika tugas kemanusiaan datang memanggil…Kapanpun…Dimanapun…Menunaikan tugas-tugas kemanusiaan yang diberikan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab… Hal ini dibuktikan dengan…Sekian tahun menjadi relawan di wilayah konflik dan terblokade Gaza Palestina untuk Pembangunan RS Indonesia…Dilanjutkan dengan sekian tahun menjadi relawan di wilayah konflik Rakhine State Myanmar untuk Pembangunan RS Indonesia di sana. Inna lillaahi wa inna ilaihi roojiuun Di hari yang baik dan bulan yang mulia, Rabb mu memanggilmuSalah satu sahabat terbaik dan relawan terbaik yang pernah kami miliki Ir. Ahmad Fauzi Relawan untuk Pembangunan Tahap 1 RS Indonesia di Gaza – Palestina Relawan untuk Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar Pada hari Jum’at/23 April 2021, pkl. 13.15 waktu setempatdi ICU RS Kanuyoso, Balikpapan, Kalimantan Timur Engkau telah menyelesaikan tugasmu di duniaKami menjadi saksi atas kebaikan-kebaikan yang telah engkau lakukanSemoga akan terus bermunculan sosok-sosok sepertimu yang selalu peduli kepada sesama yang membutuhkan Insya Allah Rumah Sakit Indonesia yang telah kau bangun akan terus memberi manfaat dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir Hanya doa yang dapat kami panjatkan semoga Allah SWT merahmatimu dan memberikan tempat yang mulia di Syurga-Nya InfoWebsite : www.mer-c.orgCall Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesiaTweeter : @mercindonesiaYoutube : MER-C Indonesia

Penghargaan BNPB, pembuktian atas kinerja kemanusiaan MER-C

Jakarta (ANTARA) – “Kalau cerita aktivitas MER-C saat misi di luar negeri sering dikutip media massa, terutama soal Palestina. Tapi cerita sukarelawan kami di pelosok negeri yang membantu korban bencana memang jarang diberitakan, padahal kami ada dari Sabang hingga Merauke, dan selalu mengirim tim”. Kalimat itu meluncur dari Ketua Presidium organisasi sosial kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan kesehatan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr Sarbini Abdul Murad saat berbincang mengenai penghargaan yang baru diterima dari negara, melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ya, BNPB baru saja memberikan anugerah penghargaan kepada MER-C atas intensitas, konsistensi, dan inovasi MER-C dalam penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya di masa pandemi COVID-19 saat ini. Penghargaan tersebut diserahkan secara daring pada acara Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Rakornas PB) Tahun 2021 di Jakarta pada Rabu (10/3/2021), yang dihadiri secara virtual oleh pengurus serta sukarelawan MER-C lainnya. Sarbini Abdul Murad — yang di lingkungan MER-C akrab disapa “dokter Ben” itu — bersyukur dan berterima kasih atas penghargaan yang diterima dari BNPB. Anugerah penghargaan itu adalah berkat kontribusi segenap relawan MER-C di seluruh Indonesia, yang selama ini telah siap sedia meluangkan waktu dan keahlian tanpa pamrih untuk menunaikan tugas-tugas kemanusiaan di berbagai wilayah terdampak bencana di Tanah Air. Ucapan terima kasih juga disampaikan atas dukungan dan kepercayaan masyarakat Indonesia kepada MER-C. Penghargaan dari BNPB itu diharapkan menjadi motivasi bagi MER-C dan seluruh sukarelawannya di mana pun berada untuk terus berkiprah bersama elemen bangsa lainnya dalam membantu penanggulangan bencana alam dan pandemi di “Bumi Pertiwi” ini.                             Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad. (FOTO ANTARA/HO-Humas MER-C) Imparsialitas Tak dipungkiri, masih muncul tudingan adanya keberpihakan dalam misi-misi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan sukarelawan MER-C di tempat terjadinya konflik dan bencana. Namun, sejak awal didirikan organisasi nirlaba itu, salah satu pendiri MER-C kala itu, (alm) dr Joserizal Jurnalis, Sp.OT menegaskan bahwa mereka mengusung prinsip imparsialitas dalam tugas-tugas kemanusiaan. Dalam beragam wacana, prinsip imparsialitas dimaknai sebagai upaya ketidakberpihakan, kenetralan, serta sikap tanpa bias dan prasangka dalam menolong sesama. Pada perspektif lain, prinsip imparsial berarti prinsip yang memiliki pandangan yang memuliakan kesetaraan hak setiap individu dalam keberagaman latarnya terhadap keadilan, dengan perhatian khusus terhadap mereka yang kurang beruntung dan membutuhkan uluran tangan untuk dibantu, termasuk pada bidang kesehatan, khususnya di kawasan konflik dan bencana. Prinsip itu sejatinya sudah menjadi pijakan tatkala MER-C, yang keanggotannya berbentuk sukarelawan (unpaid volunteers) dibentuk oleh sekumpulan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang tergerak melakukan tindakan medis guna membantu korban konflik di Maluku, pada Agustus 1999. Ada narasi yang menyebut MER-C mengedepankan asas Islam dalam menjalankan tugas, yakni dengan pijakan rahmatan lil’aalamiin, dengan makna mereka memberikan pertolongan kepada semua orang tanpa memandang latar belakang, agama, mazhab, kebangsaan, etnis, golongan atau politik. Menurut Sarbini AbdulMurad, saat konflik di Ambon, Maluku, tim medis MER-C melakukan operasi kepada yang terluka kepada dua komunitas. Dalam misi di dalam negeri, sukarelawan kesehatan MER-C sudah berada di Papua sejak 2007 atau sudah 14 tahun guna memberikan pelayanan bantuan kesehatan. Mahasiswa Program Doktor Pengkajian Islam Konsentrasi Dakwah dan Komunikasi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Rubiyanah mengulas peran MER-C itu (2019/1439 H). Dalam disertasi berjudul “Dakwah Berbasis Kemanusiaan: Studi Terhadap Aksi Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia di Gaza (2009-2015) dan Lombok (2018)”, ia mendeskripsikan secara lebih mendalam tentang aktivitas MER-C sebagai sebuah lembaga kemanusiaan di Indonesia, bukan di luar negeri saja, namun juga di dalam negeri. Melalui kata pengantarnya, Rubiyanah menyatakan secara eksplisit, MER-C tidak menyebut lembaga mereka memiliki misi dakwah, akan tetapi dalam perspektif dakwah, aksi kemanusiaan yang telah dilakukan MER-C sejalan dengan prinsip- prinsip dakwah yang tertuang dalam Al-Qur’an maupun al-Sunnah. Di antaranya adalah prinsip kemanusiaan universal sebagai perwujudan ukhrijat Li al-nas, amar ma’ruf dalam aksi kemanusiaan MER-C, nahy munkar melalui jihad profesi dan rahmatan lil ‘alamin sebagai wujud prinsip keimanan. Sarbini menambahkan MER-C pernah mendirikan banyak klinik-klinik kesehatan di seluruh Indonesia bekerja sama dengan Bank BNI. Di Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh, MER-C sejak bencana tsunami, menghibahkan puskesmas ke pemerintah daerah sehingga menjadi aset pemerintah daerah setempat. Karena itu, misi kemanusiaan MER-C dalam bidang kesehatan di Tanah Air, secara kuantitas jauh lebih banyak ketimbang di mancanegara, di mana data itu juga bisa diakses melalui laman organisasi, termasuk di saat pandemi COVID-19 saat ini.                             Menlu Retno Marsudi (empat dari kiri) saat menerima delegasi yang dipimpin Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad (tiga dari kiri) saat melaporkan perkembangan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Tahap II di Gaza, dan RSI di Myanmar. (FOTO ANTARA/HO-Humas MER-C/2019) Validasi Bukti imparsialitas dalam kinerja kemanusiaan MER-C, juga divalidasi oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam Rencana Strategis Kemenlu 2020-2024 (https://kemlu.go.id). Laporan Menlu itu menyebutkan dinamika di kawasan Asia Tenggara juga diwarnai dengan terjadinya konflik di Rakhine State, Myanmar. Pada Agustus 2017, dipicu oleh serangan yang dilakukan oleh Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) terhadap pos-pos polisi, dilakukan operasi militer di wilayah tersebut. Berbagai bentrokan senjata telah menyebabkan korban jiwa dan lebih dari 700 ribu etnis Rohingya kehilangan tempat tinggal dan mengungsi ke wilayah Bangladesh, sementara pengungsi Buddha menyelamatkan diri ke selatan (Sittwe). Sebagai tetangga dan sebagai bagian dari keluarga besar ASEAN, untuk mewujudkan dan menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan, Indonesia mengambil peran aktif dalam upaya penyelesaian konflik di Rakhine State. Merespons situasi yang terjadi, Menlu RI pada 4-5 September 2017 melakukan kunjungan ke Myanmar dan Bangladesh. Dalam kunjungan ke Myanmar, Menlu telah bertemu dengan State Counsellor Myanmar Aung San Suu Kyi. Pada kesempatan itu, Menteri Luar Negeri menyampaikan formula 4+1, yaitu mengembalikan stabilitas dan keamanan; menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan; perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State, tanpa memandang suku dan agama; pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan dan +1, yaitu mengimplementasikan rekomendasi Laporan Komisi Penasihat untuk Negara Bagian Rakhine yang dipimpin oleh mantan Sekjen PBB Kofi Annan. Dari pertemuan tersebut juga berhasil diperoleh kesepakatan dari Pemerintah Myanmar untuk dibukanya akses

MER-C Indonesia Terima Penghargaan Penanggulangan Bencana dari BNPB

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia menerima penghargaan penanggulangan bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Anugerah penghargaan diberikan atas intensitas, konsistensi, dan inovasi MER-C dalam penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya di masa pandemi Covid-19.   Penghargaan tersebut diserahkan secara daring pada acara Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Rakornas PB) Tahun 2021, Rabu/10 Maret 2021. Acara dihadiri secara virtual oleh pengurus serta relawan MER-C lainnya.     Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad bersyukur dan berterima kasih atas penghargaan yang diterima dari BNPB. Menurutnya, anugerah penghargaan adalah berkat kontribusi segenap relawan MER-C di seluruh Indonesia yang selama ini telah siap sedia meluangkan waktu dan keahlian tanpa pamrih untuk menunaikan tugas-tugas kemanusiaan di berbagai wilayah terdampak bencana di tanah air. Sarbini juga mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan masyarakat Indonesia kepada MER-C.     Penghargaan ini diharapkan menjadi motivasi bagi MER-C dan seluruh relawannya dimanapun berada untuk terus berkiprah bersama elemen bangsa lainnya dalam membantu penanggulangan bencana alam dan pandemi di tanah air. ***

Silakan Kau Tangkap dan Hukumi Fisiknya, Biar Kami Obati Sakitnya (Tugas Mulia Tenaga Medis, Advokasi Kesehatan & Kemanusiaan Kritis)

Cuplikan Hadits Bukhari & Muslim mengatakan, “… penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, kalaupun tidak engkau akan mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan apinya mengenai pakaianmu…..” Kaitannya dengan tugas mulia relawan tenaga medis dalam memberikan Advokasi dan Bantuan Medis Kritis, yaitu bantuan medis yang diberikan pada orang-orang yang terisolasi, terkucilkan, baik akibat peperangan, konflik, ketidakadilan, isolasi politik, isolasi dan stigmatisasi sosial yang mempunyai masalah kesehatan sehingga tidak bisa mendapatkan akses layanan kesehatan yang baik. Orang-orang ini masuk dalam kategori “The most neglected people & the most vulnerable people” karena tak ada seorang pun yang mau mendekat atau membantu akibat takut terkena imbas stigmatisasi dan masalah. Namun para sukarelawan MER-C telah membuktikan janji dan sumpah profesinya untuk tetap membantu siapapun yang membutuhkan, bersikap PROFESIONAL, NETRAL, AMANAH dan SUKARELA serta tetap berdiri tegak di tengah stigmatisasi, fitnah dan bahaya yang mengintai. Katakanlah bagaimana kisah relawan MER-C membawa dan mengobati keluarga salah seorang panglima GAM Teungku Ishak Daud yang mengalami sakit di hutan, kesulitan untuk mengakses pelayanan kesehatan akibat konflik lalu menghubungi MER-C. Kemudian MER-C bersurat kepada pihak-pihak yang berkonflik akan membawa orang yang sakit tersebut ke Jakarta untuk diobati, maka dibawalah ke Jakarta walaupun dibawah intaian intelijen. Merekapun berhasil disembuhkan. Kisah lain bagaimana MER-C memberikan advokasi kesehatan kepada terpidana teroris Ustadz Abu bakar Ba’asyir (ABB) yang sudah bertahun-tahun dipenjara dan MER-C tetap setia memberikan bantuan medis. Bahkan wafatnya pendiri MER-C dr. Joserizal Jurnalis pun tidak mensurutkan tekad relawan MER-C dalam memberikan advokasi kesehatan kritis kepada ABB. Mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji pun yang mengalami isolasi politik sempat merasakan layanan advokasi kesehatan MER-C. Demikian pula dengan Mantan Menkes Siti Fadilah Supari yang gagah melawan kekuatan WHO dalam hal virus. Teranyar adalah kasus HRS, yang meminta bantuan medis kepada MER-C, menimbulkan “collateral effect” bagi RS dan dokter yang menanganinya. Di saat para tenaga medis enggan untuk memberikan bantuan karena stigmatisasi yang terjadi. Para relawan MER-C tetap konsisten membantu dengan segala resiko. Barakallah, semoga Allah SWT senantiasa memberkati, melindungi, menjaga menguatkan niat-niat ikhlas dan suci para sukarelawan yang terus konsisten di bidang kemanusiaan dan kesehatan. Wahai para dokter dan tenaga medis…Bagaimana dengan jiwamu…Adakah panggilan itu ? Salam Kemanusiaan, Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Presidium dan Relawan MER-C  

Catatan Tahun 2020

CATATAN DOKTER BEN   Selamat datang tahun 2021. Semoga tahun yang akan kita lalui menjadi tahun yang penuh keberkahan dan lebih baik dari tahun sebelumnya. Itu asa kita semua. Kita mesti menyakini bahwa langkah dan harapan pada tahun 2021 adalah menjadikannya sebagai tahun perjuangan untuk memperoleh kemenangan dan kemajuan bagi bangsa kita.     Ada beberapa catatan di tahun 2020 yang patut kita belajar dan ambil hikmahnya.   Pertama, ujian berat bagi kita adalah merebaknya wabah Covid-19. Di awal pandemi kita gugup dan panik  menghadapi serangan wabah yang begitu cepat. MER-C dengan cepat melakukan langkah darurat dengan membuat APD (Alat Pelindung Diri) sederhana tapi aman bagi Nakes. APD buatan MER-C diburu oleh institusi kesehatan di seluruh Indonesia, ada yang kita kirim sesuai dengan permintaan, tapi ada juga yang datang ke kantor MER-C untuk mengambil sendiri.   Langkah cepat MER-C di awal pandemi diapresiasi oleh banyak pihak. Banyak donatur yang simpati dan terus berpartisipasi menyumbang dana untuk menolong Nakes. Kami ucapkan terima kasih kepada para donatur.   Disamping itu, MER-C juga membuka _call center_ dan membentuk tim monitoring terdiri dari relawan dokter spesialis dan umum yang setiap harinya menerima keluhan warga atau pasien yang terkena covid atau terduga covid. Langkah ini merupakan wujud dari partisipasi MER-C membantu masyarakat mengatasi wabah pandemi.   Kedua, kepulangan teman-teman relawan konstruksi dari Jalur Gaza, Palestina. Selama dua tahun mereka menjadi relawan di tanah para nabi untuk melakukan pembangunan dua lantai tambahan RS Indonesia.   Mereka meninggalkan keluarga dan kerabat yang penuh harap dan cemas di tanah air, karena mereka datang ke tanah yang tiap saat terjadi serangan Israel, dan nyawa mereka selalu berada di ujung tanduk.   Alhamdulillah mereka bisa pulang dengan selamat dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga.   Ketiga, sebelum tutup tahun MER-C dipanggil oleh pihak Kepolisian. Ini ujian yang mesti kita hadapi dengan tenang dan berharap agar semua bisa berlalu dengan manis. Inilah kehidupan, inilah dunia. Kata ALLAH dunia tempat senda gurau dan permainan. Kita tak perlu marah dan kesal. Semua ini sudah menjadi takdir kita dan kita mesti berprasangka baik kepada ALLAH.   Akhirnya kepada semua relawan MER-C, tetap semangat dan terus berbuat kebajikan untuk bangsa dan negara. Doa dan harapan kita semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.   Jakarta, 2 Januari 2021

MER-C Penuhi Panggilan Kedua Polres Kota Bogor

Bogor, MINA – Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) memenuhi panggilan kedua dari Polres Kota Bogor, Rabu, 16 Desember 2020. Mereka dimintai keterangan selama enam jam.   Ketua Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad mengatakan, pihaknya datang memenuhi panggilan sebagai saksi. Relawan MER-C, kata dia, mendapat 38 pertanyaan soal posisi dan kedudukan tim medis MER-C dan hubungannya dengan pimpinan FPI. “Kami datang sebagai saksi. Saya dalam hal ini bersama relawan MER-C dipanggil untuk memberikan kesaksian. Ada sekitar 38 pertanyaan yang menyangkut tentang tugas dan fungsi saya sebagai Ketua Presidium, juga hubungan MER-C dengan FPI,” kata Sarbini usai pemeriksaan. Sarbini mengatakan, pihaknya terbuka memberikan informasi yang dibutuhkan kepolisian. MER-C, kata dia, akan selalu transparan, independen, dan tidak pernah ragu untuk melaksanakan tugas dan profesi selama dalam jalur yang benar. “Kami mendukung apa yang mereka lihat, mereka periksa, dan mereka lakukan. Kami terbuka untuk semua itu. Kami juga meminta semua pihak untuk menghormati independensi dokter, sehingga tidak mengganggu independensi dokter dari arah hal yang bisa menimbulkan kegaduhan,” katanya. Dia menegaskan, dokter bekerja sesuai dengan Undang-Undang (UU), kode etik, dan juga sumpah sebagai dokter. “Ini pelajaran bagi semua agar bisa melihat sesuatu secara proporsional, terutama menghormati setiap profesi,” katanya. (L/R2/RI-1) Sumber : https://minanews.net/mer-c-penuhi-panggilan-kedua-polres-kota-bogor/

Silahkan bertanya?