Jusuf Kalla Apresiasi Program Bantuan MER-C di Afghanistan

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, M. Jusuf Kalla mengapresiasi dan mendukung program bantuan yang disalurkan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di Afghanistan. Hal ini disampaikannya saat menerima kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad, Ketua Tim MER-C untuk Afghanistan, dr. T. Meaty Fransisca, dan Manager Operasional, Rima Manzanaris di kediamannya, Senin (1/7). “Jadi kalau MER-C ingin mengadakan upaya sosial di sana tentu sangat dihargai, membantu masyarakat dengan operasi kesehatan, sanitasi atau pendidikan, sangat dihargai sama dengan di Gaza,” ujar Jusuf Kalla. “Kita tahu semua bahwa sekarang ini Afghanistan setelah Amerika mundur, di bawah pemerintahan yang dipimpin oleh Taliban keadaanya lebih damai karena tidak ada lagi konflik yang besar tetapi kondisi masyarakat tetap tentu membutuhkan bantuan karena soal kemiskinan di sana, kekurangan sarana setelah 20 tahun perang,” katanya. Ia juga mengatakan, bantuan yang diberikan MER-C ini mewakili wajah Indonesia untuk membantu orang yang sedang dalam keadaan susah. Bantuan dalam keadaan sulit tentu berbeda dan mereka sangat hargai itu karena mereka membutuhkan. “Itulah hal-hal yang dilakukan MER-C selama ini dan sekarang kita hargai,” tuturnya. Jusuf Kalla berharap, masyarakat dapat membantu warga Afganistan yang saat ini dalam keadaan susah setelah perang. “Tentu membantu mereka itu merupakan amal ibadah yang baik dan dibutuhkan partisipasi masyarakat secara keseluruhan. Mereka 20 tahun dalam perang, otomatis mereka kekurangan ekonomi dan fasilitas sosial yang sulit,” ungkapnya. Sebelumnya, MER-C mengirimkan Tim Medis ke Afghanistan pada 14 Desember 2023 – 9 Januari 2024 lalu untuk membantu korban bencana gempa bumi dahsyat di Herat. Tim menempuh perjalanan darat selama 36 jam dari ibukota Afghanistan Kabul ke Herat dengan membawa bantuan dari masyarakat Indonesia. Bantuan berupa obat-obatan, alat kesehatan, perlengkapan musim dingin, dan makanan semua disalurkan langsung oleh Tim MER-C setelah mendapat izin dan pengamanan dari otoritas setempat. Bahkan Tim Medis MER-C juga mendapatkan izin melakukan pengobatan bagi warga terdampak gempa di Herat. Seiring musim dingin ekstrem yang melanda Afghanistan, MER-C kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan tahap 2 ke Herat tepatnya di Distrik Zenda, pada 12 – 13 Maret 2024. Bantuan berupa perlengkapan musim dingin dan bahan makanan didistribusikan ke empat desa yang terdampak gempa paling parah. MER-C terus menjalankan bantuan berkelanjutan di wilayah pasca gempa Afghanistan. Saat ini tengah berlangsung penyaluran bantuan kemanusiaan tahap 3 yaitu program pembuatan sumur air bersih di beberapa desa di wilayah pasca gempa di sana.

Disambut Dengan Penuh Haru, Relawan MER-C Kembali ke Indonesia Setelah Misi Kemanusiaan di Gaza

Banten, Rasilnews – Setelah melalui perjalanan panjang dan penuh tantangan, tiga relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) akhirnya tiba kembali di tanah air, Indonesia. Mereka adalah Ita Muswita (Ketua Tim/Bidan & Perawat Bedah), Asrina Sari (Perawat), dan Nadia Rosi (Perawat), yang telah mengabdi di Gaza selama lebih dari dua bulan, memberikan bantuan medis kepada warga yang terdampak konflik berkepanjangan. Setelah tertahan di Rafah, kota di selatan Gaza, karena situasi keamanan yang tidak menentu, para relawan akhirnya berhasil kembali. Mereka harus melewati berbagai rintangan sebelum tiba di Indonesia. Uni Ita, panggilan akrab Ita Muswita, menceritakan kisah penuh haru dan keteguhan hatinya kepada Radio Silaturahim. “Kami masuk ke Gaza melalui perbatasan Rafah dan bertugas di sana selama 2,5 bulan. Setiap hari di sana adalah perjuangan. Kami keluar lewat Kerem Shalom dan kemudian tinggal di Yordania, menunggu tim ke-4 masuk ke Gaza, baru kemudian kami kembali ke tanah air,” ungkap Uni Ita dengan suara yang bergetar, mengenang masa-masa sulit tersebut. Selama bertugas, mereka menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan peralatan medis hingga ancaman keselamatan. Namun, semangat untuk membantu sesama tidak pernah padam. “Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh MER-C untuk ikut misi ini. Dari sekian banyak misi yang saya ikuti, misi ke Gaza lah yang paling banyak menguras air mata. Kondisi di Gaza sangat memprihatinkan, tidak ada tempat yang benar-benar aman. Namun, insya Allah, jika diberi kesempatan lagi, saya dan teman-teman siap untuk kembali demi misi kemanusiaan,” tambahnya dengan penuh semangat. Uni Ita juga mengungkapkan pelajaran berharga yang didapatnya dari Gaza. “Dari Gaza, saya belajar arti sebenarnya dari ‘InsyaAllah’. Di sana, InsyaAllah bukan sekadar janji, tapi sebuah pengingat bahwa ‘hari ini kita hidup, mungkin besok kita belum tentu…’. “Setiap hari adalah anugerah yang harus disyukuri,” katanya sambil menahan air mata. Kepulangan mereka disambut dengan tangis haru oleh tim MER-C lainnya yang telah menunggu. Banyak dari mereka yang menitikkan air mata, tidak hanya karena bahagia melihat rekan-rekan mereka kembali dengan selamat, tetapi juga karena rasa bangga dan hormat atas keberanian dan dedikasi yang ditunjukkan. “Kami sangat bangga dengan apa yang telah mereka lakukan. Mereka adalah pahlawan sejati,” ujar salah satu anggota tim MER-C yang menyambut. Suasana penyambutan di bandara dipenuhi dengan keharuan. Wajah-wajah yang lelah namun penuh semangat itu, menjadi saksi bisu dari kisah pengorbanan dan keberanian yang tak ternilai harganya. Mereka bukan hanya membawa kembali cerita tentang penderitaan dan perjuangan, tetapi juga harapan dan inspirasi. Kisah mereka adalah pengingat bahwa kemanusiaan masih hidup, bahkan di tengah Genosida yang berlangsung. Relawan MER-C telah menunjukkan kepada dunia bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas. Mereka telah menanamkan semangat kemanusiaan yang tak tergoyahkan, sebuah teladan yang patut ditiru oleh kita semua. Semoga langkah mereka menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk terus berjuang demi kemanusiaan dan keadilan. Sumber : https://www.radiosilaturahim.com/disambut-dengan-penuh-haru-relawan-mer-c-kembali-ke-indonesia-setelah-misi-kemanusiaan-di-gaza/

Sempat Tertunda Sebulan, Satu Relawan MER-C Akhirnya Bisa Masuk Gaza

Dr. Regintha Yasmeen, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, akhirnya mendapat kesempatan masuk ke Jalur Gaza,  setelah menunggu selama satu bulan di Kairo, Mesir, Selasa (4/6). Dr. Regintha yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) 4, berangkat dari Jakarta ke Kairo bersama 6 relawan lainnya pada tanggal 3 Mei 2024. Ia dan Tim EMT 4 lain sebelumnya dijadwalkan masuk ke Jalur Gaza menggantikan Tim EMT 3 MER-C pada Senin (6/5). Namun invasi darat Israel ke Rafah pada hari itu membuat semua pergerakan konvoi relawan di bawah koordinasi WHO UNOCHA baik yang akan masuk ke Jalur Gaza, maupun yang akan keluar dari Jalur Gaza tertunda. Bahkan sejak saat itu, perbatasan Rafah ditutup total hingga hari ini. Kegagalan masuk ke Jalur Gaza tidak membuat para relawan putus asa. Keinginan besar untuk membantu warga Gaza yang menjadi korban membuat mereka bertahan menunggu kesempatan masuk berikutnya. Sebulan berlalu, kesempatan itu akhirnya datang. Sejak 31 Mei 2024, secara bertahap relawan dari Tim EMT 4 MER-C masuk ke Jalur Gaza dari Amman Yordania melalui Perbatasan Karem Abu Salem. Sementara itu, pada Selasa kemarin (4/6), satu relawan dari Tim EMT 1 MER-C, Ita Muswita, yang telah bertugas hampir tiga bulan juga berhasil keluar dari Jalur Gaza. Saat ini, ada tujuh relawan MER-C yang masih berada di Jalur Gaza dan bertugas di rumah sakit dan klinik yang masih beroperasi.

Satu Lagi Relawan Medis MER-C Masuk ke Jalur Gaza

Satu relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali berhasil memasuki Jalur Gaza. Dr. Farhandika Muhammad yang tergabung dalam Tim Emergency Medical Team (EMT) 4 akhirnya masuk ke Jalur Gaza bersama konvoi WHO UNOCHA, Jumat (31/5). Tim MER-C yang ada di Yordania melepas dr. Farhandika di Amman, untuk masuk ke Jalur Gaza melalui Penyebrangan Karem Abu Salem, Kamis (30/5). Ketatnya pengecekan barang bawaan Tim di perbatasan tersebut, membuat perjalanan konvoi terhambat dan baru tiba di Gaza keesokan harinya. Dr. Far Proses pergantian relawan sempat tertunda akibat invasi Israel ke Rafah, Gaza Selatan, yang merupakan tempat bertugas relawan. Invasi ini juga mengakibatkan penyebrangan Rafah, antara Mesir dan Gaza ditutup. Saat ini pergerakan masuk dan keluar relawan medis dari Jalur Gaza melalui penyebrangan Karem Abu Salem, namun masih dengan jumlah yang sangat terbatas. Pada hari yang sama, Jumat (31/5), dua relawan perawat, Asrina Sari dan Nadia Rosi dari Tim EMT 3 MER-C juga berhasil keluar dari Gaza usai bertugas selama lebih dari satu bulan di sana. Dengan rotasi yang ada, saat ini total tujuh relawan MER-C yang masih berada di Jalur Gaza terdiri dari 4 relawan medis, yaitu dokter spesialis anastesi, dokter spesialis bedah umum, dokter umum dan bidan serta tiga relawan non-medis. Relawan medis EMT MER-C langsung bertugas di RS An-Nasser yang baru reaktivasi selama satu minggu dan medical point yang masih aktif di Gaza Selatan.

Tujuh Relawan MER-C Ikut Konferensi Kemanusiaan Internasional di Kuala Lumpur

Tujuh relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengikuti Konferensi Kemanusiaan Internasional bertajuk ‘’Humanitarian Development Nexus: Building Resilience Transforming Lives” yang digelar di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Kuala Lumpur, 27-29 Mei 2024, oleh Mercy Malaysia. Tujuh orang yang hadir yaitu Ketua Emergency Medical Team (EMT) MER-C Indonesia dr. Arief Rachman, Sp.Rad, yang menjadi pembicara dalam konferensi tersebut. Kemudian enam relawan lainya Apt. Dini Rahmawati, S.Farm. Wunandi Artia Binar Phasa, S.Farm, dr. Fahmi Anshori, Sp.OT, dr. Tonggo Meaty Fransisca, dr. Reyfal Khaidar dan Kipa Jundapri, S.Kep., Ners., M.Kep. Acara konferensi dibuka oleh Sultan Perak Darul Ridzuan, Sultan Nazrin Muizzuddin Shah bin (alm) Sultan Azzlam Muhibbuddin. Relawan MER-C Raih Juara ke-3 Poster Presentasi Terbaik Dalam konferensi ini Tim MER-C membawa lima poster presentasi terkait topik bencana di Indonesia dan konflik terkini yang terjadi di Jalur Gaza berdasarkan pengalaman langsung relawan MER-C di lapangan. Salah satu poster relawan MER-C berjudul “Profile of Desease and Injury in Primary Health Care During Gaza Conflict 2023/2024, MER-C Indonesia Experience” yang dipresentasikan oleh dr. Reyfal Khaidar, salah satu relawan yang baru kembali dari Gaza  mendapat penghargaan sebagai poster terbaik ke-3. Konferensi Kemanusiaan Internasional MERCY Malaysia (MMIHC) adalah forum yang mempertemukan para aktor dan jaringan kemanusiaan dari berbagai belahan dunia dan pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Konferensi ini mempertemukan para pemikir dan praktisi kemanusiaan terkemuka dari seluruh dunia untuk membahas praktik terbaik, pembelajaran dan implikasinya terhadap orang-orang yang menjadi inti pekerjaan kemanusiaan. Edisi 2024 membahas isu-isu jauh lebih kompleks yang memerlukan perhatian, mencakup meningkatnya kerapuhan dan konflik, krisis iklim, kesehatan, keuangan dan ekonomi akibat meningkatnya risiko bencana dan tantangan pembangunan, agenda lokalisasi, serta isu-isu kemanusiaan, diplomasi, pandemi global, ilmu pengetahuan dan teknologi, sumber daya keuangan yang didedikasikan untuk bantuan kemanusiaan juga pembangunan, dan banyak lainnya.

Hadiri Halal Bihalal HMI, dr. Sarbini Ceritakan Perjuangan Membangun RS Indonesia di Gaza

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad menceritakan perjuangan membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, saat menghadiri Halal Bihalal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). “Ini adalah mission impossible, karena kita membangun di tempat yang diblokade. Tidak hanya orang yang sulit masuk, bahkan uang pun sulit masuk Gaza,” katanya di Halal Bihalal dengan tema ‘Kemerdekaan Palestina, Amanah UUD 1945 dan Khittah Perjuangan HMI MPO’, yang digelar di Gedung Djoeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/5). “Dulu kami datang ke Gaza, kemudian terdengar ledakan bom, saat itu yang kami rasakan bukan takut. Kami justru sangat marah karena tidak ada yang bisa dilakukan menyaksikan hal tersebut. Maka dari itu kita berusaha membangun Rumah Sakit yang sangat monumental, hadiah rakyat Indonesian untuk bangsa Palestina,” ujarnya. Ia mengungkap, Rumah Sakit yang dibangun dari sumbangan masyarakat Indonesia ini dibangun sebaik mungkin, dengan peralatan dan fasilitas terbaik, karena MER-C sangat menghargai usaha pembangunan RS ini. Sarbini mengatakan, untuk itu RS Indonesia memiliki fasilitas terbaik dan terbesar kedua di Jalur Gaza. Terakhir sebelum diserang Israel karena tuduhan adanya terowongan Hamas, RS Indonesia menjadi rujukan korban-korban serangan Israel dan tempat berlindung bagi ribuan warga Palestina di Gaza. “Di dalamnya pun kita rancang dengan baik, ruangannya kita beri nama-nama Indonesia seperti Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi ada pahlawan seperti Cut Nyak Dhien, Cut Dik Tiro karena kita ingin mengenakan Indonesia kepada Bangsa Palestina,” tambahnya. “Warga Gaza sendiri saat awal Rumah Sakit ini dibangun mengatakan, ” Kami tidak tahu di mana Indonesia. Yang kami tahu itu negara  sangat jauh” untuk itu warga Gaza sangat menghargai kehadiran dan bantuan kita,” kara Sarbini. Lebih lanjut, Sarbini menyerukan dukungan kepada warga Gaza yang saat ini masih terus diserang Israel. Ia sendiri menyayangkan di Indonesia masih ada orang yang mendukung tindakan Israel setelah menyaksikan apa yang terjadi. Rumah Sakit Indonesia berlokasi di atas bukit dekat Jabaliya, kamp pengungsi terbesar di Gaza yang dibangun dari sumbangsih rakyat Indonesia melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C).  Serangan pasukan pendudukan Israel pada Kamis (23/11) malam telah menyebabkan kerusakan parah di RS Indonesia dan menyebabkan tiga relawan MER-C, staf Rumah Sakit, serta seluruh pasien dan warga Gaza yang berada di sana terpaksa mengungsi ke Gaza Selatan.

Secara Bertahap, Relawan MER-C Kembali ke Tanah Air Usai Bertugas di Jalur Gaza

Berkoordinasi dengan WHO dan UNOCHA, Tim ke-3 EMT (Emergency Medical Teams) MER-C yang tertahan di Rafah akibat serangan darat Israel akhirnya bisa keluar. Relawan pertama berhasil keluar dari Jalur Gaza pada hari Selasa (21/5) pukul 22:15 waktu Amman Yordania dan telah tiba di tanah air pada hari ini, Jumat (24/5). Selanjutnya, satu relawan lagi berhasil keluar dari Jalur Gaza pada hari Kamis (23/5). “Kedua relawan berhasil keluar dari Jalur Gaza bersama konvoi WHO UNOCHA dengan menempuh perjalanan sekitar 7 jam dari pintu perbatasan Karem Shalom menuju Amman Yordania,” ujar Ketua EMT MER-C Indonesia, dr. Arief Rachman, SpRad yang terus memantau proses exit relawan langsung di Amman, Yordania. Pada hari ini, Jum’at (24/5), dua relawan EMT MER-C lainnya juga dijadwalkan keluar dari Jalur Gaza melalui pintu perbatasan Karem Shalom bersama konvoi WHO  UNOCHA. “Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses ini. Kepada WHO, lalu kepada KBRI Amman yang turut menjemput relawan di Imigrasi King Husein Bridge Yordania,” ucap Arief. “Terima kasih juga kami sampaikan kepada teman-teman relawan dari Tim Peduli pimpinan Pak Eko Sulistio atas dukungan dan bantuannya dalam hal akomodasi serta transportasi bagi Tim EMT MER-C selama berada di Yordania,” lanjut Arief. Semua relawan yang telah berhasil keluar dari Jalur Gaza tergabung dalam Tim 3 EMT MER-C yang berhasil masuk Jalur Gaza, Palestina, sejak Senin (22/4). Saat ini, masih terdapat delapan relawan MER-C di Jalur Gaza. MER-C terus berkomunikasi dengan EMTCC WHO agar relawan yang telah menyelesaikan misi kemanusiaan di Jalur Gaza, bisa segera kembali ke tanah air.

Lima Hari Bertugas, Relawan MER-C Beri Sejumlah Bantuan kepada Korban Banjir Sumbar

Tim Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) bertugas selama lima hari di lokasi bencana banjir lahar dingin dan tanah longsor di Padang, Sumatera Barat untuk memberikan sejumlah bantuan kepada para korban. Tim bertugas dari tanggal 15-20 Mei 2024. MER-C mengirimkan empat relawan dari pusat yaitu Iis Islamiah (Ketua Tim), dua dokter umum yaitu dr. Asfianti Eka Pratiwi dan dr. Ilham Wahyu, serta satu perawat Rina Hertanti, AMK. Di Padang, bergabung Tim lokal yang juga berjumlah empat orang;  dr. Yusri Dianne, SpA(K) yang juga merupakan Pembina MER-C Padang, Ir. Zirma Juneldi, Msi, Hanifah Farhatal ‘Aisy dan Melky Anggara. Selama bertugas Tim berkordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk memberikan bantuan pengobatan yang dilakukan di posko atau bergerak mengunjungi rumah-rumah warga. Banyak korban memilih untuk tinggal di rumah kerabat nya daripada pengungsian yang telah disediakan. Selain itu, Tim juga melakukan kegiatan trauma healing di Nagari Parambahan, Kecamatan Lima Kaum yang diikuti sekitar 40 anak-anak di pengungsian. Kegiatan dipimpin langsung oleh dr. Yusri Dianne, SpA(K). Salah satu relawan, dr. Ilham Wahyu mengatakan, berdasarkan hasil assestment di lapangan saat ini para korban sangat membutuhkan bantuan psikolog karena banyak yang mengalami trauma pasca terjadinya bencana.Sedangkan untuk pengobatan baik luka-luka dan penyakit lainya sudah terpenuhi oleh tenaga dari dinas kesehatan setempat. Lebih lanjut, dr. Ilham mengatakan tantangan saat menjalankan misi kali ini adalah luasnya wilayah yang harus dijangkau oleh Tim, sehingga dibutuhkan lebih banyak relawan. Banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah Sumatera Barat pada Sabtu (11/5/2024) dan Minggu (12/5/2024). Banjir dipicu oleh hujan lebat dan meluapnya aliran sungai yang sebagian besar berhulu di Gunung Marapi. Banjir diperparah dengan terbawanya material vulkanik dari Gunung Marapi melalui sungai karena hujan lebat di sekitar puncak. Terdapat lima kabupaten/kota di Sumatera Barat yang terdampak banjir lahar, yakni Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang.

Relawan MER-C Berangkat ke Mentawai untuk Bangun Sarana Ibadah dan Sekolah

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengirim tim untuk menindak lanjuti program kemanusiaan pembangunan sarana Ibadah, renovasi sarana pendidikan serta fasilitas pendukungnya di Dusun Muara Sikabaluan, Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Tim yang beranggotakan tujuh orang berangkat dari Jakarta pada hari Senin (20/5/2024) dan akan bertugas kurang lebih selama dua bulan.   “Hari ini, Senin 20 Mei 2024 kami bersama 6 orang relawan MER-C akan melaksanakan program kemanusiaan dalam negeri pembangunan sarana ibadah dan renovasi sekolah bersama fasilitas pendukungnya,” ujar Ketua Tim Khoirul Mustofa. “Inshaa Allah kita akan tempuh dari Jakarta menuju Padang, kemudian dari Padang menuju Desa Sikabaluan tepatnya di Dusun Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai menggunakan Kapal Mentawai Fast kurang lebih 3-4 jam perjalanan laut,” tambahnya. Ia mengatakan, pembangunan akan langsung dimulai begitu tim tiba. Material untuk pembangunan sudah tersedia karena sudah dipesan dari jauh hari. Selain itu, Tim juga membawa sejumlah peralatan pembangunan yang dibutuhkan di lapangan. Ia mengungkapkan, karena wilayah ini rawan gempa bumi, maka material yang dipilih adalah kayu yang lebih tahan dan aman saat terjadi gempa. “Mohon doa urusan ini diberi kelancaran oleh Allah dan kami kembali dengan selamat,” ujar Mustofa. Sebelumnya,  MER-C menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan Yayasan Pembina Islam Mentawai (YAPISMEN) untuk bantuan renovasi sekolah, pembangunan sarana ibadah, dan bangunan pendukung lainnya yang berada di MTs.S. Al Muhtadin, di Dusun Muara Sikabaluan, Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kab. Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Jumat (05/01/2024).  Kemudian MER-C mengrimkan dua orang relawannya pada akhir 2023 selama hampir dua pekan, untuk meninjau lokasi pembangunan.

Sebuah Serangan Udara Jatuh dekat Guest House MER-C di Gaza

Jum’at/17 Mei 2024, sekitar pukul 20.53 malam waktu Indonesia atau 16.53 waktu gaza, sebuah serangan udara menyasar sebuah bangunan rumah dekat guest house MER-C di Rafah, Gaza Selatan. Serangan terjadi ketika Tim MER-C Pusat Jakarta sedang menghubungi salah satu relawan di Gaza.   Alhamdulillah semua relawan selamat dan dalam kondisi baik. Namun beberapa bagian Guest house mengalami kerusakan dampak getaran yang cukup kuat. Saat ini semua relawan sudah dievakuasi ke Guest House MER-C yang baru di daerah Almawasi. MER-C sudah berkoordinasi dengan EMTCC WHO di Gaza dan Cairo serta Kemenlu RI terkait situasi ini. Saat ini masih ada 12 relawan MER-C di Gaza yang tergabung dalam Tim EMT (Emergency Medical Teams). Rotasi tim EMT MER-C Indonesia dan semua tim EMT di bawah WHO tertunda pasca operasi militer Israel di Rafah sejak 6 Mei 2024. Upaya untuk mengeluarkan relawan yang telah selesai bertugas dari Gaza masih terus diupayakan. Sementara menunggu izin keluar Gaza, relawan medis MER-C di sana masih melakukan pelayanan medis di fasilitas kesehatan yang direkomendasikan. Mohon doa dari seluruh rakyat Indonesia untuk keselamatan para relawan.

Silahkan bertanya?